JAKARTA Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, memutuskan untuk memperpanjang gencatan senjata dengan Iran. Keputusan ini cukup mengejutkan, apalagi di tengah situasi yang masih panas.
Menurut Antonius Tomy, wartawan Harian Kompas, langkah Trump ini sebenarnya bukan tanpa perhitungan. Ia melihat ini sebagai bagian dari strategi yang lebih besar.
“Jelas ini tujuannya adalah ekonomi,” ujar Anto. “Jadi target utama Amerika adalah memaksa Iran untuk masuk ke negosiasi dengan memberikan tekanan ekonomi, termasuk blokade.”
Dengan kata lain, perpanjangan gencatan senjata ini yang dilakukan secara sepihak oleh Trump bisa dibaca sebagai manuver. Di satu sisi, ia memberi ruang. Di sisi lain, tekanan terus dikencangkan.
Situasi ini terjadi di tengah kebuntuan jalur negosiasi yang sebelumnya diprakarsai Pakistan. Negosiasi itu macet. Dan di saat seperti itulah Trump mengambil inisiatif sendiri.
Ada yang bilang ini langkah cerdik. Ada juga yang menilai ini sekadar taktik untuk mengulur waktu. Tapi yang jelas, ekonomi menjadi senjata utama.
Anto menambahkan, tekanan lewat jalur ekonomi memang pola yang sering dipakai AS. “Mereka ingin Iran benar-benar terpojok, baru kemudian diajak bicara,” katanya.
Apakah strategi ini akan berhasil? Belum ada yang tahu pasti. Yang jelas, dinamika di lapangan masih cair. Dan keputusan Trump ini hanya salah satu babak dari drama panjang yang belum selesai.
Editor: Lia Putri
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Artikel Terkait
Wakil Ketua Komisi XIII DPR Apresiasi Program Bedah Rumah Lapas Warungkiara yang Libatkan Narapidana
Listrik Padam Berjam-jam di Bekasi Tanpa Pemberitahuan, Warga Keluhkan Gangguan Pekerjaan
Kajari Medan Bantah Tuduhan Pemerasan Kontraktor di Kupang: Itu Fitnah
Tiga Girl Group HYBE — LE SSERAFIM, ILLIT, dan KATSEYE — Rilis Single Kolaborasi “ICONIC BY MISTAKE” Pekan Ini