Erlangen Jadi Cerminan Lanskap Keagamaan Jerman yang Semakin Beragam

- Selasa, 21 April 2026 | 09:15 WIB
Erlangen Jadi Cerminan Lanskap Keagamaan Jerman yang Semakin Beragam

Di Erlangen, sebuah kota di Bayern Utara yang penduduknya sekitar 119.000 jiwa, perubahan sedang berlangsung. Bukan cuma satu, tapi beberapa. Di dekat kampus universitas, pemerintah negara bagian menyiapkan lahan untuk sinagoge baru. Dua masjid utama kota ini juga berencana memperluas bangunannya. Sementara di pinggiran, ada gerakan lain: sebuah asosiasi membeli tanah untuk membangun Kuil Shiva-Vishnu bagi komunitas Hindu setempat.

Keragaman itu sendiri bukan hal baru bagi Erlangen. Silvia Klein, Kepala Dinas Integrasi dan Keberagaman kota, menyoroti betapa berwarnanya kehidupan budaya, bahasa, dan agama di sana.

“Kami adalah komunitas yang terus berkembang,” ujar Vilwanathan Krishnamurthy, salah satu penggagas proyek kuil Hindu terbesar di Berlin yang rencananya dibuka Juni 2026.

Ia menekankan pentingnya tempat seperti ini. “Ada kebutuhan akan tempat ibadah yang bisa jadi tempat berkumpul bagi anak-anak muda,” katanya.

Bagi banyak orang tua di India, keberadaan kuil memberi rasa tenang ketika anak mereka merantau jauh dari rumah.

Mahasiswa India: Kelompok Non-Jerman Terbesar

Menurut Klein, saat ini ada lebih dari 2.000 mahasiswa asal India di Erlangen. Jumlah itu membuat komunitas India disebut sebagai kelompok non-Jerman terbesar di kota tersebut. Proyek kuil di Erlangen dijalankan oleh asosiasi "Hindu Tempel Franken," yang danainya berasal dari donasi, iuran internal, dan pinjaman. Mereka menargetkan pembangunan dimulai paling lambat 2027.

Ini cuma satu contoh. Potret keagamaan di banyak kota Jerman memang kian beragam. Gereja-gereja tradisional Katolik, Protestan, Ortodoks Yunani dan Rusia tentu masih berdiri. Tapi lanskapnya kini diisi oleh rumah ibadah dari keyakinan lain yang terus bertambah.

Ambil contoh di distrik Bruck, Erlangen. Tiga tahun lalu, sebuah gereja Katolik yang kosong diambil alih oleh Gereja Koptik. “St. Peter und Paul” kini berganti nama, didedikasikan untuk Santa Maria dan Para Rasul Kudus.

“Dulu kami hanya memiliki 18 keluarga dengan sekitar 50-60 anggota,” kenang Diakon Koptik Ragai Edward Matta. “Sekarang ada sekitar 60 keluarga dengan lebih dari 200 orang.”

Itu belum termasuk sekitar 40 mahasiswa yang ikut beribadah. Jumlahnya, kata Matta, terus bertambah.

Gereja Besar Menyusut, Komunitas Baru Tumbuh

Sebaliknya, gereja-gereja Kristen besar justru mengalami penurunan drastis. Beberapa tahun lalu, lebih dari separuh penduduk Jerman mengaku Kristen. Kini, angka itu merosot jadi sekitar 44% yang masih tercatat sebagai anggota gereja Katolik atau Protestan. Akibatnya, banyak gereja ditutup, dialihfungsikan, atau diperkecil.

Di sisi lain, data perkiraan bukan angka pasti menunjukkan lebih dari 5,3 juta muslim tinggal di Jerman pada 2020. Umat Kristen Ortodoks sekitar 3,8 juta di 2024. Belum lagi komunitas Yahudi, Buddha, Baha'i, dan Hindu yang terus berkembang.

Perubahan ini terlihat nyata dari munculnya rumah ibadah baru, meski jumlah pastinya sulit dilacak. Musim panas 2024 lalu, para biksuni Buddha membuka kuil baru di Berlin-Mitte. Sekarang ada sekitar 20 wihara Buddha di seluruh Jerman.

Pembangunan kuil Hindu semakin umum. Di Frankfurt saja ada lebih dari setengah lusin ruang ibadah kecil. Kota-kota seperti Köln, Hamburg, München, dan Berlin punya beberapa kuil dengan latar tradisi beragam, dari India, Tamil, hingga Afganistan.

Di Erlangen, banyak anggota aktif komunitas kuil bekerja sebagai insinyur atau manajer, termasuk di Siemens. Sementara di Berlin, Amazon kerap menjadi tempat kerja mereka. Donasi untuk proyek-proyek ini pun meningkat dalam beberapa tahun terakhir.

Masjid: Dari Perluasan hingga Kendala

Di pihak muslim, Uni Islam Turki untuk Urusan Agama (DITIB) memiliki 862 komunitas masjid di Jerman. Namun beberapa proyek baru ternyata tak mulus. Di Krefeld, rencana masjid yang dibilang akan jadi terbesar ketiga di Jerman masih mangkrak bertahun-tahun.

Komunitas lain justru aktif membangun. Komunitas Ahmadiyah yang berasal dari Pakistan dan mengalami persekusi di sana rutin membuka masjid baru. Pertengahan Februari lalu mereka membuka satu di Erfurt. Menurut juru bicaranya, Sulaeman Malik, masjid lain juga dibuka di Nordhorn pada Desember 2025. Pembangunan masih berlangsung di Husum.

“Kami hampir setiap hari memandu pengunjung, dari pelajar sampai lansia,” kata Malik tentang masjid di Erfurt yang sempat dapat ancaman. Baginya, ketertarikan publik itu adalah hal yang membanggakan di tengah tantangan.

Di Erlangen, “Peace Mosque” yang sedang diperluas adalah contoh lain. Pengunjung akan menemukan jamaah dari berbagai latar budaya muslim, dengan ceramah yang disampaikan dalam bahasa Jerman.

Sinagoge dan Proyek Kebanggaan Yahudi

Komunitas Yahudi juga tak kalah dinamis. Setelah pembukaan Sinagoge Magdeburg (2023) dan Potsdam (2024), setiap ibu kota negara bagian di Jerman kini punya rumah ibadah Yahudi. Proyek baru terus disiapkan.

Di Erlangen, rencana sinagoge yang sudah lama digagas mulai menunjukkan kemajuan. Di Berlin, komunitas Chabad berencana memperluas sinagoge mereka.

Namun mungkin yang paling simbolis adalah proyek di Frankfurt. Di pusat kota, dekat Messeturm, sebuah sekolah Yahudi akan dibuka pada November 2026. Kompleksnya menggabungkan vila bersejarah yang dilindungi dengan bangunan modern bergaya Bauhaus. Biayanya pada 2021 diperkirakan mencapai Rp696,2 miliar sebuah investasi besar untuk masa depan.

Ortodoks: Ambil Alih dan Bangun dari Nol

Komunitas Ortodoks juga makin terlihat. Mereka tak cuma mengambil alih gereja kosong, tapi juga membangun dari awal. Juni 2024 lalu, gereja "St. Peter & Paul Parish" di Butzbach, Hesse, diresmikan. Ini adalah gereja pertama yang dibangun dari nol oleh Metropolis Ortodoks Antiokhia di Eropa, mayoritas untuk jemaat berlatar Suriah.

Tapi membangun dari nol di Jerman tak mudah. Aturannya kompleks. Di Vilshofen an der Donau, Gereja Ortodoks Rumania sudah hampir tiga tahun menunggu izin bangunan untuk tempat ibadah barunya. Sekitar 300 keluarga jemaat masih menunggu dengan rasa kecewa.

“Prosesnya sangat lama,” keluh Pastor Marius Jidveian, menggambarkan kendala birokrasi yang dihadapi.

Pada akhirnya, apa yang terjadi di Erlangen dan kota-kota Jerman lainnya adalah cerita tentang pergeseran. Gereja-gereja mungkin kosong di satu sisi, tapi di sisi lain, kuil, masjid, dan sinagoge baru bermunculan. Lanskap keagamaan negara ini tak lagi hitam putih, tetapi penuh warna dan terus berubah.

Artikel ini pertama kali ditulis dalam bahasa Jerman.

Diadaptasi oleh Felicia Salvina.

Editor: Yuniman Farid/Ayu Purwaningsih.

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar