DPR: Pelemahan Rupiah Momentum Percepat Substitusi Impor dan Perkuat Ekspor

- Jumat, 05 Juni 2026 | 17:00 WIB
DPR: Pelemahan Rupiah Momentum Percepat Substitusi Impor dan Perkuat Ekspor

Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat dinilai bukan semata ancaman, melainkan momentum yang tepat bagi Indonesia untuk memperkuat industri nasional dan mengurangi ketergantungan pada produk impor. Pandangan ini disampaikan oleh Anggota Komisi XI DPR RI, Kamrussamad, yang menilai bahwa kerentanan rupiah terhadap gejolak global salah satunya dipicu oleh tingginya kebutuhan industri dalam negeri akan bahan baku dan komponen dari luar negeri.

Menurut politisi tersebut, langkah strategis yang mendesak untuk dilakukan adalah percepatan program substitusi impor, khususnya di sektor manufaktur yang selama ini masih sangat bergantung pada pasokan asing. “Percepatan substitusi produk impor terhadap industri manufaktur kita. Dengan percepatan ini maka komponen impor akan mengalami penurunan,” ujar Kamrussamad di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (4/6/2026). Ia menjelaskan bahwa pengurangan impor tidak hanya akan menghemat devisa negara, tetapi juga berpotensi meningkatkan kapasitas produksi dan daya saing industri di dalam negeri.

Di sisi lain, kondisi nilai tukar yang melemah juga membuka peluang bagi peningkatan ekspor nasional. Kamrussamad menilai biaya produksi yang menggunakan mata uang rupiah menjadi relatif lebih murah dibandingkan negara lain, sehingga produk Indonesia berpeluang lebih kompetitif di pasar internasional. “Karena biaya produksi kita dalam bentuk rupiah lebih rendah, peluang untuk masuk ke pasar global menjadi lebih besar. Ini harus dimanfaatkan terutama untuk sektor perikanan, pertanian, dan kehutanan,” ujarnya.

Namun, ia menyoroti adanya penurunan ekspor pada sektor-sektor unggulan tersebut sepanjang awal 2026. Padahal, sektor perikanan, pertanian, dan kehutanan dinilai memiliki potensi besar sebagai sumber devisa sekaligus pencipta lapangan kerja. Oleh karena itu, pemerintah diminta memberikan perhatian lebih agar sektor-sektor produktif ini mampu meningkatkan kontribusinya terhadap perekonomian nasional.

Tidak hanya mendorong kebijakan dari sisi hulu, Kamrussamad juga mengajak masyarakat untuk berperan aktif dalam memperkuat ketahanan ekonomi. Menurut politisi Fraksi Partai Gerindra tersebut, dukungan terhadap produk lokal akan membantu memperkuat pasar domestik dan mendorong pertumbuhan industri nasional. “Kami mengimbau masyarakat untuk menggunakan produk dalam negeri terlebih dahulu, berwisata di dalam negeri, dan memperkuat ekosistem ekonomi lokal kita,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa menghadapi tekanan ekonomi global tidak bisa hanya mengandalkan kebijakan pemerintah semata. Kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat dinilai mutlak diperlukan untuk membangun fondasi ekonomi yang lebih kuat. Menurut Kamrussamad, peningkatan ekspor, penguatan industri dalam negeri, dan dukungan terhadap produk lokal akan membuat perekonomian Indonesia lebih tangguh menghadapi berbagai tekanan eksternal, termasuk gejolak nilai tukar rupiah. “Kalau industri dalam negeri kuat, ekspor meningkat, dan masyarakat mendukung produk lokal, maka ekonomi kita akan lebih tahan terhadap gejolak eksternal, termasuk tekanan terhadap rupiah,” tutupnya.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar