Sebuah rudal menghantam kapal MV Gold Autumn di tengah Laut Arab. Di atas kapal itu, ada tiga anak buah kapal asal Indonesia. Setelah melalui proses yang cukup panjang, akhirnya ketiganya bisa dipulangkan ke tanah air.
Menurut sejumlah saksi, insiden itu terjadi pada Selasa, 7 April 2026. Kapal dagang tersebut sedang dalam pelayaran dari Shanghai menuju Oman saat terkena hantaman. Dari total 22 awak yang berasal dari China, Bangladesh, Myanmar, Vietnam, dan Indonesia, 18 orang berhasil dievakuasi. Empat orang lainnya, termasuk sang kapten, memilih untuk tetap tinggal di kapal.
Nah, dalam keterangan resminya di hari Sabtu, KJRI Karachi mengungkap peran mereka. Pihak konsulat aktif memfasilitasi penerbitan paspor pengganti dan surat keterangan kehilangan. Tidak hanya itu, berbagai dokumen penting lain yang diperlukan untuk pemulangan juga diurus. Mereka pun memastikan kebutuhan dasar ketiga ABK itu terpenuhi selama masih berada di Karachi.
“Setelah menunggu proses penyelesaian dokumen ABK dari beberapa negara lain selama kurang lebih satu minggu, tiga orang ABK WNI dijadwalkan untuk kembali ke Indonesia dari Karachi pada tanggal 18 April 2026 dan diharapkan tiba di Tanah Air pada 19 April 2026,”
demikian pernyataan KJRI Karachi.
Untuk mempercepat segalanya, koordinasi intensif dijalin. Baik dengan instansi di Pakistan maupun di Indonesia, termasuk dengan agen kapal yang bersangkutan. Konsul Jenderal RI di Karachi, Mudzakir, sendiri yang melepas kepergian mereka.
Di sisi lain, KJRI berjanji akan terus memantau proses ini. Koordinasi dengan Direktorat Pelindungan WNI di Kemlu dan pihak terkait lainnya akan berlanjut hingga ketiga WNI itu benar-benar tiba dengan selamat di rumah.
Mudzakir juga menyelipkan imbauan penting. Terutama untuk WNI yang bekerja di sektor pelayaran.
“KJRI Karachi juga mengimbau kepada seluruh WNI, khususnya yang bekerja di sektor pelayaran, untuk selalu memastikan menyimpan salinan lunak dokumen pribadi, menyimpan nomor kontak penting serta menghubungi perwakilan RI terdekat sekiranya terjadi permasalahan atau kondisi darurat saat bertugas,”
jelasnya. Poin yang terdengar sederhana, tapi seringkali jadi penyelamat dalam situasi kritis seperti ini.
Artikel Terkait
Lula Kritik Gaya Komunikasi Trump yang Sebarkan Ancaman Lewat Media Sosial
Badan Geologi Ingatkan Warga Tomohon Waspadai Gas Beracun dan Erupsi Freatik Gunung Lokon
BYD Capai Produksi 16 Juta Kendaraan Hijau, Diumumkan Bersama Peluncuran Denza D9 Generasi Kedua
Warga Lebanon Selatan Menyeberangi Sungai Berbahaya Demi Pulang Usai Gencatan Senjata