Donald Trump punya kabar baru. Presiden Amerika Serikat itu bilang, negaranya dan Iran sudah "sangat dekat" dengan sebuah kesepakatan perdamaian. Pernyataan ini langsung mencuri perhatian, tentu saja. Tapi, benarkah peluang perdamaian itu begitu nyata?
Hikmahanto Juwana, Guru Besar Hukum Internasional Universitas Indonesia, punya pandangan yang cukup skeptis. Menurutnya, kita harus hati-hati mendengar ucapan Trump.
"Pertama, kita tidak bisa terlalu percaya apa yang disampaikan Trump. Soalnya, pernyataannya sering berubah-ubah," ujar Hikmahanto, Sabtu lalu.
Ia lalu menyinggung soal isu utama yang selalu jadi perhatian Trump: program nuklir Iran dan pengayaan uranium. Hikmahanto meyakini, sebenarnya Iran sudah bersedia untuk tidak mengembangkan senjata nuklir. Masalahnya, ada satu hal yang masih alot.
"Nah, uranium yang sudah diperkaya itu mau diapakan? Rusia sebenarnya sudah bersedia menerimanya. Tapi Trump tidak mau kalau ke Rusia," jelasnya.
Di sinilah titik kuncinya. "Tinggal Trump maunya seperti apa. Kalau dia dan Iran bisa sepakat, ya memang jalan menuju kesepakatan damai akan semakin terbuka," tambah Hikmahanto.
Namun begitu, ada satu faktor lain yang justru bisa menggagalkan segalanya: Israel. Menurut Hikmahanto, aksi sabotase atau serangan dari Israel bisa merusak segalanya. Bayangkan jika Israel terus menyerang kelompok seperti Hezbullah. Reaksi dari Iran pasti akan datang, dan situasi langsung memanas.
"Kalau Israel kemudian melakukan serangan ke Hezbullah, Houthi, atau Hamas, ini jelas tidak akan mendekatkan perdamaian. Pasti ada reaksi dari Iran," tegasnya.
Sebelumnya, Trump memang tampak optimis. Saat berbicara kepada para wartawan di Gedung Putih, Jumat kemarin, ia mengulangi klaim bahwa kedua negara hampir mencapai kata sepakat. Ia menyebut Teheran setuju menyerahkan cadangan uranium yang diperkaya. Lokasi pembicaraan lebih lanjut, katanya, mungkin di Islamabad, Pakistan.
"Kita sangat dekat untuk mencapai kesepakatan dengan Iran," kata Trump, seperti dilaporkan AFP dan Al Arabiya. "Mereka telah menyetujui hampir semuanya. Jadi mungkin jika mereka bisa duduk di meja perundingan, akan ada perbedaan."
Lalu, bagaimana dengan rencana penandatanganannya? Saat ditanya apakah ia akan terbang ke Pakistan untuk urusan itu, Trump menjawab dengan khas.
"Saya mungkin akan pergi, ya. Jika kesepakatan itu ditandatangani di Islamabad, saya mungkin akan pergi," tuturnya.
Jadi, di satu sisi ada optimisme dari Gedung Putih. Di sisi lain, keraguan dan potensi gangguan dari lapangan masih sangat nyata. Perdamaian memang seringkali digambarkan sudah "di depan mata", tapi jalan menujunya tak pernah benar-benar mulus.
Artikel Terkait
Polisi Ungkap Korban Dibunuh Mantan Suami dengan Cekikan dan Bekapan di Serpong
Pertamina Naikkan Harga Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex Mulai 18 April
Pasukan Hantu AS dengan Tank Balon Tipu Nazi dalam Perang Dunia II
Kelangkaan Minyakita di Lingga Picu Pedagang Beralih ke Minyak Goreng Mahal