Di sisi lain, sang Duta Besar berkeras bahwa UEA sama sekali bukan provokator. “Kami bukan pihak yang memulai agresi ini. Bahkan, kami tidak menginginkannya,” tegas Abdulla.
Ia menjelaskan bahwa sebelum tanggal 28 Februari, UEA dan negara-negara GCC lainnya sebenarnya sudah berupaya keras mencegah perang. Sayangnya, upaya itu gagal.
“Namun hal ini tidak dapat kami hindari. Tidak ada satu negara pun yang benar-benar kebal,” ucapnya, lalu menyoroti aksi Iran yang memblokade Selat Hormuz.
Blokade itu, dalam pandangannya, adalah pukulan telak bagi stabilitas global. Selat Hormuz bukan sekadar jalur air biasa, melainkan urat nadi penting untuk pasokan energi dan pangan dunia.
Abdulla membeberkan angka-angka yang cukup mencengangkan. Sekitar 20% minyak dari kawasan Timur Tengah yang seharusnya memenuhi kebutuhan global terhambat. Belum lagi 70% pupuk yang biasa disalurkan melalui selat tersebut ikut mandek.
“Apa yang dilakukan Iran tidak hanya mengancam perekonomian kawasan,” pungkasnya, dengan nada yang lebih berat.
“Tapi juga perekonomian seluruh dunia.”
Artikel Terkait
Hari Kartini 2026 Jatuh pada 21 April, Bukan Hari Libur Nasional
Atasan Gadai SK Anggota Satpol PP Bogor, TPP Dipotong Paksa Bayar Kredit Macet
Polri Bentuk Satgas Haji, Fokus Berantas Praktik Ilegal dan Lindungi Jemaah
Tokoh dan Ulama Indonesia Serukan Perdamaian Timur Tengah untuk Jamin Keamanan Haji 2026