Kalau bicara soal penanganan kasus perempuan dan anak di Sulteng, nama AKP Siti Elminawati pasti tak asing. Saat ini menjabat Kasat Reskrim Polres Sigi, polwan ini punya cara kerja yang khas: selalu mengedepankan perspektif korban. Rekam jejaknya berbicara, dari kasus perdagangan anak hingga yang menghebohkan, pemerkosaan anak oleh 11 orang di Parigi Moutong.
Tak heran, namanya kini diusulkan untuk sebuah penghargaan. Pengusulnya adalah Dewi Rana, warga Palu yang juga Direktur Eksekutif Libu Perempuan Sulteng. Mereka pertama kali bertemu saat mendampingi korban kekerasan anak, waktu Siti masih bertugas di Polda Sulteng.
Lalu, apa alasan Dewi mengusulkannya?
Dedikasinya tinggi, profesional, tapi tetap humanis. Itulah kesan yang tertangkap. Dalam setiap tugas, perlindungan korban adalah prioritas mutlak. Pendekatannya responsif, konsisten, dan mampu membangun rasa aman. Kehadirannya, kata Dewi, justru mengembalikan kepercayaan masyarakat pada institusi kepolisian.
Dewi lalu menceritakan satu contoh nyata. Beberapa tahun silam, ada kasus pencurian yang melibatkan seorang anak. Sang anak mengambil parfum mahal milik majikan ibunya, konon untuk biaya sekolah.
Alih-alih langsung memproses hukum, Siti memilih jalur mediasi. Ia menggunakan perspektif perlindungan anak. "Ibu Siti itu kemudian dia menggunakan perspektif perlindungan anak. Sampai kemudian beliau datangi, dia bilang 'kalau saya di posisi itu, akan memanfaatkan' jadi ada jalur yang digunakan di luar prosedur formal, pendekatan sebagai ibu dan sebagai perempuan," tutur Dewi.
Tak cuma itu, sisi kemanusiaan juga tak luput. Dalam beberapa kasus, Siti bahkan rela merogoh kocek pribadi untuk biaya transportasi korban yang berasal dari kabupaten jauh agar bisa pulang. Hal-hal kecil semacam ini yang sering terlupakan.
Perjalanan Panjang di Dunia Perlindungan Perempuan dan Anak
Sebenarnya, ini bukan kali pertama Siti diajukan untuk penghargaan. Sebelumnya, namanya juga masuk dalam program Hoegeng Corner 2025. Pengabdiannya di unit PPA (Perlindungan Perempuan dan Anak) sudah dimulai sejak awal tahun 2000-an. Rentetan kasus berat telah ia tangani.
Salah satu yang membekas adalah kasus perdagangan bayi berusia satu tahun yang dijual seharga 12,5 juta rupiah lewat Facebook. Ibunya sendiri yang menjual karena tekanan ekonomi.
Kerja tim dan kolaborasi lintas sektor ia optimalkan. Dari pengembangan kasus itu, mereka bahkan berhasil membongkar jaringan serupa dan menyelamatkan bayi lain yang baru berusia tujuh hari di Jakarta.
Artikel Terkait
Sidang Ungkap Sertifikat Laik Fungsi Gedung Terra Drone Kedaluwarsa Sejak 2020
Deddy Corbuzier Kritik Pedas Konten Hinaan Steven Wongso Terhadap Orang Gemuk
Potensi Laut Indonesia Besar, Namun Kesejahteraan Nelayan Masih Tertinggal
Saksi Ungkap Alarm Bisu dan Akses Tunggal dalam Kebakaran Maut PT Terra Drone