Dewi bahkan mengungkapkan tekanan yang mereka terima selama proses ini berlangsung. Ada permintaan agar kasus ini tidak disebarluaskan ke publik. Yang lebih mengejutkan, keluarga justru diminta membuat surat permohonan maaf kepada institusi terkait. Sungguh situasi yang tak mudah bagi mereka.
Hingga detik ini, keluarga masih menunggu. Menunggu kejelasan, menunggu pertanggungjawaban. Mereka berharap DPRD Jatim bisa mengawal proses ini sampai tuntas. “Yang saya utamakan adalah upaya penyembuhan anak saya sampai tuntas,” kata Dewi dengan nada lirih namun tegas.
Di sisi lain, Marinir sudah buka suara. Komandan Hukum Resimen Bantuan Tempur 2 Marinir TNI AL, Mayor Ahmad Fauzi, menyatakan prihatin. Insiden ini, kata dia, terjadi saat latihan menembak empat batalyon di Karangpilang.
“Pertama-tama kami menyampaikan turut prihatin atas terjadinya musibah yang menimpa dua siswa SMP di Gresik. Kami memahami peristiwa ini menimbulkan kecemasan dan kekhawatiran bagi kita semua. Kami atas nama Komandan Resimen Bantuan Tempur 2 Marinir menyampaikan rasa simpati dan empati yang tulus terhadap para korban,” jelas Ahmad dalam keterangannya beberapa waktu lalu.
Peristiwa ini sendiri terjadi pada Desember 2025 lalu. Dua siswa SMP di Gresik terluka saat berada di lingkungan sekolah. Hingga kini, penyelidikan masih terus berjalan. Masyarakat pun menanti, apa hasil mediasi yang akan dilakukan DPRD Jatim. Harapannya, tidak hanya sekadar pertemuan formal, tapi ada langkah nyata yang meringankan beban korban.
Artikel Terkait
Tiga Keluarga Korban Kebakaran Terra Drone Tolak Jadi Saksi di Persidangan
Dubes UEA Tegaskan Negara Tetap Aman Meski Hadapi Ribuan Serangan Rudal Iran
KNAI Salurkan Donasi Rp1 Miliar untuk Pendidikan di Indonesia Timur
Presiden Iran Bela Paus Leo XIV Usai Dikritik Pedas Donald Trump