Presiden Iran Bela Paus Leo XIV Usai Dikritik Pedas Donald Trump

- Rabu, 15 April 2026 | 12:55 WIB
Presiden Iran Bela Paus Leo XIV Usai Dikritik Pedas Donald Trump

Dukungan untuk Paus Leo XIV justru datang dari arah yang mungkin tak terduga. Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, bersama sejumlah tokoh senior di negaranya, secara terbuka membela pemimpin Gereja Katolik itu. Hal ini terjadi setelah Paus mendapat kritikan pedas dari Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.

Memang, sikap Paus sendiri yang memicu reaksi Trump. Leo XIV dengan tegas mengkritik kebijakan AS terhadap Iran dan berbagai langkah yang dinilai memicu peperangan. Nah, dari sinilah dukungan Iran itu muncul.

Lewat sebuah pesan resmi, Pezeshkian menyampaikan solidaritasnya. Ia mengutuk keras apa yang disebutnya sebagai bentuk "ketidakhormatan" terhadap Paus dan Yesus yang dalam pandangannya adalah nabi perdamaian.

"Penodaan terhadap tokoh-tokoh suci tersebut tidak dapat diterima oleh siapa pun yang mencari kebebasan,"

Begitu bunyi kutipan pesannya yang dilaporkan Tehran Times, Rabu lalu. Pezeshkian menegaskan bahwa ia bicara mewakili bangsa Iran untuk mengecam pernyataan-pernyataan itu. Harapan baik untuk sang Paus pun ia sampaikan.

Di sisi lain, Donald Trump tak kalah keras. Melalui media sosial dan kemudian konferensi pers, mantan presiden AS itu menyerang balik. Paus ditudingnya "lemah menghadapi kejahatan". Pandangan Paus, menurut Trump, justru merugikan kepentingan luar negeri Amerika.

Trump bahkan dengan blak-blakan menyatakan, "Saya bukan penggemarnya."

Namun begitu, tanggapan dari Vatiban justru terasa lebih kalem. Saat dalam penerbangan menuju Aljazair, Paus Leo XIV berbicara singkat kepada awak media. Ia mengaku tak punya niat untuk terlibat dalam perang kata-kata publik dengan Trump.

Tapi jangan salah, sikap tenangnya itu bukan berarti menyerah. Paus dengan jelas menegaskan kembali komitmennya untuk memperjuangkan perdamaian.

"Saya tidak takut,"

Ucapnya tegas. Ia mengulang penentangannya pada segala bentuk perang. Ancaman-ancaman yang belakangan dialamatkan ke Iran, katanya, "sama sekali tak bisa diterima." Sejauh ini, Paus memang termasuk salah satu suara keagamaan paling lantang yang mendesak de-eskalasi dan jalan damai, di tengah memanasnya situasi global.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar