"Ternyata, ini bisa langsung digunakan dengan kadar bensin sawit sampai 50%," katanya, masih takjub.
"Campuran [bensin sawit] 50% itu bisa langsung berguna untuk mesin [kendaraan bermotor yang menggunakan] bensin."
Namun begitu, ia mengakui bahwa saat ini inovasi tersebut masih dalam skala kecil. Itulah sebabnya pemerintah berkomitmen untuk mendampingi. Pendampingan ini diharapkan bisa mengarahkan produk inovasi agar lebih kompetitif dan akhirnya mendukung swasembada energi.
Di sisi lain, pemerintah juga punya skema lain. Mereka mendorong pembentukan National Technology Transfer Office (NTTO). Lembaga ini nantinya akan mengawasi proses hilirisasi dan komersialisasi inovasi agar lebih terarah.
Rachmat menegaskan, dukungan ini selaras dengan prioritas nasional dan visi Indonesia Emas 2045. "Program kerja diarahkan untuk mulai dari swasembada energi, pangan, hingga air," pungkasnya.
Jadi, meski masih awal, semuanya terlihat bergerak. Dari lab kampus, harapan akan bahan bakar alternatif yang mandiri mulai menemukan bentuknya.
Artikel Terkait
Polda Riau Resmikan Bengkel Gratis untuk Pengemudi Ojol di Pekanbaru
Dukcapil Peringatkan Warga Waspada Penipuan Aktivasi IKD via Pesan Singkat
Aliran Dana Asing ke SBN Masih Gradual, Investor Global Tunggu Suku Bunga dan Rupiah Stabil
Ditresnarkoba Polda Metro Jaya Sita Lebih dari 6 Kilogram Ganja di Depok