Namun begitu, pelatihan dua hari ini jelas bukan titik akhir. Brigjen Topri menekankan bahwa BNPP akan mendorong pendampingan berkelanjutan. "Sampai ke aspek pemasaran nantinya," tuturnya. Tujuannya agar produk-produk ini benar-benar siap terjun ke pasar dan akhirnya meningkatkan pendapatan warga perbatasan.
Untuk mewujudkan itu, kolaborasi jadi kunci. BNPP tak bekerja sendirian. Mereka menggandeng sejumlah mitra strategis seperti BAZNAS, Pertamina Foundation, Bank Rakyat Indonesia, dan tentu saja Pemerintah Daerah setempat. Sinergi ini diharapkan bisa memperkuat ekosistem UMKM di wilayah tapal batas.
Di sisi lain, inisiatif BNPP ini mendapat apresiasi dari pengelola PLBN setempat. Maria Fatima Rika, Kepala PLBN Motaain, menyambut baik kegiatan yang menjadikan pos perbatasan sebagai pusat pengembangan kapasitas.
Baginya, peran PLBN harus melampaui fungsi administratif semata.
"PLBN adalah beranda depan negara. Sesuai arahan BNPP RI, keberadaannya harus memberi dampak ekonomi langsung bagi masyarakat sekitar," kata Maria.
Jadi, di balik megahnya gerbang perbatasan, ada upaya konkret untuk menggerakkan ekonomi dari tingkat paling dasar. Tenun ikat Belu yang selama ini menjadi warisan leluhur, kini digerakkan untuk menjadi penggerak kemandirian yang baru.
Artikel Terkait
Final Trailer Ikatan Darah Tampilkan Aksi Brutal dan Lokalitas Indonesia
Gadis 13 Tahun dari Pontianak Jadi Calon Haji Termuda, Gantikan Almarhumah Ibu
Upaya AS Capai Grand Bargain dengan Iran Terkendala Perbedaan Mendasar
BRIN Peringatkan Bahaya Ikan Sapu-Sapu: Invasif dan Berpotensi Mengandung Logam Berat