BRIN Peringatkan Bahaya Ikan Sapu-Sapu: Invasif dan Berpotensi Mengandung Logam Berat

- Rabu, 15 April 2026 | 07:40 WIB
BRIN Peringatkan Bahaya Ikan Sapu-Sapu: Invasif dan Berpotensi Mengandung Logam Berat

Kalau Anda melihat ikan dengan tubuh pipih dan mulut seperti penghisap di dasar sungai Jakarta, itu kemungkinan besar adalah ikan sapu-sapu. Tapi jangan salah, penampilannya yang biasa-biasa saja itu menipu. Menurut peneliti BRIN, Gema Wahyu Dewantoro, ikan ini justru jadi ancaman serius buat perairan kita.

Gema bilang, ikan sapu-sapu itu statusnya sudah invasif. Reproduksinya cepat banget, plus sifatnya yang merusak. "Ikan ini bisa mencemari perairan," katanya Rabu lalu. "Bukan cuma merusak jaring nelayan atau melubangi pinggiran sungai, tapi juga menggeser populasi ikan asli."

Yang lebih mengkhawatirkan lagi, daging ikan ini diduga menyimpan bahaya tersembunyi.

"Dagingnya diduga mengandung logam berat. Kalau dikonsumsi dalam jangka panjang, dampaknya negatif buat kesehatan," ujar Gema.

Di sisi lain, langkah Pemprov DKI yang mulai gencar menangkap ikan sapu-sapu dapat apresiasi. Peneliti BRIN lainnya, Haryono, menilai upaya itu sudah tepat. Populasi ikan asal Amerika Selatan ini memang sudah melimpah ruah dan mengganggu keseimbangan ekosistem.

"Upaya seperti ini patut dicontoh untuk wilayah lain," ungkap Haryono. "Bukan cuma untuk ikan sapu-sapu, tapi juga jenis invasif lain macam ikan red devil."

Haryono menjelaskan lebih jauh. Ikan sapu-sapu ini sudah tersebar luas dan resmi dikategorikan sebagai Jenis Asing Invasif. Ancaman terhadap ikan lokal dan habitatnya nyata. Bahaya konsumsinya pun dia tegaskan kembali. "Ini berdampak tidak langsung ke manusia. Kalau dimakan, bisa bahaya karena kemungkinan tercemar logam berat," jelasnya.

Lalu, bagaimana cara mengendalikannya? Ada beberapa opsi: secara biologi, kimiawi, atau manual. Tapi, metode manual lewat penangkapan rutin dinilai paling aman dan disarankan.

"Agar populasinya terkendali, penangkapan harus intensif dan periodik," tutur Haryono. "Dengan begitu populasinya bisa ditekan, lama-lama terkikis. Tentu saja, ini perlu edukasi dan melibatkan semua pihak terkait."

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar