Nenek 80 Tahun Kehilangan Tempat Tinggal Usai Rumah di Kemayoran Ludes Terbakar

- Selasa, 02 Juni 2026 | 13:45 WIB
Nenek 80 Tahun Kehilangan Tempat Tinggal Usai Rumah di Kemayoran Ludes Terbakar

Air mata Saodah tak terbendung saat menuturkan detik-detik kepanikan ketika si jago merah melalap habis rumah yang ia tempati bersama keluarga besar di kawasan Kemayoran Gempol, Pasar Jiung, Jakarta Pusat. Perempuan lanjut usia berusia 80 tahun itu kini harus kehilangan tempat berteduh setelah seluruh bangunan hangus dilalap api.

Peristiwa nahas itu terjadi pada Senin (1/6) malam. Saat itu, Saodah sedang beristirahat di dalam rumah. Sekitar pukul 22.00 WIB, ia dikejutkan oleh keributan dan teriakan warga yang memberitakan adanya kebakaran.

"Aku lagi tiduran, udah jam 10 malam. Kok rame-rame ada apa, api-api... lari saja," kenangnya dengan suara bergetar.

Letak rumah Saodah tidak jauh dari titik awal munculnya api. Begitu menyadari kobaran api semakin mendekat, ia mengambil keputusan untuk segera menyelamatkan diri tanpa sempat membawa barang berharga.

"Api udah di pojok, udah dekat saya di pojokan. Jadi saya lari aja kabur," ujarnya.

Dengan kondisi fisik yang terbatas, Saodah berlari menjauh dari amukan api menggunakan tongkat. Sementara itu, anak-anaknya telah lebih dulu menyelamatkan diri masing-masing.

"Anaknya pada lari sendiri-sendiri, kabur sendiri-sendiri. Jadi saya sendirian lari di jalan pakai tongkat," tuturnya.

Ia terus berjalan hingga akhirnya berhenti di dekat sebuah bajaj. Di lokasi itu, ia menunggu keluarganya yang terpisah saat kebakaran terjadi. Saodah mengaku baru bisa berkumpul kembali dengan seluruh anggota keluarganya dua jam kemudian, sekitar pukul 12 malam.

"Sampai sini, dekat bajaj, aku duduk di bajaj sendirian. Punggung sakit, gemeteran. Terus aku duduk di bajaj, anak saya pada nyari," katanya.

Rumah yang ditempati Saodah berada tepat di depan titik api. Karena jarak yang sangat dekat, kobaran api dengan cepat melahap bangunan bertingkat yang ia huni bersama delapan orang anak serta cucu dan cicitnya. Rumah tersebut terdiri dari empat kamar di lantai atas yang ditempati anak-anaknya, sementara lantai bawah dihuni Saodah dan beberapa anggota keluarga lain.

"Dekat. Ini rumah saya, ini titik api. Rumah Pak RW juga kena," ucapnya.

Tak satu pun barang berhasil diselamatkan. Seluruh isi rumah, mulai dari kasur hingga perabotan rumah tangga, hangus terbakar.

"Hangus semua. Orang dekat api situ, mana bisa bawa barang. Bawa orang aja aku susah jalannya," ujarnya.

Di tengah kesedihan yang mendalam, Saodah juga harus menahan rasa nyeri di bagian punggung. Ia baru saja menjalani operasi tulang punggung sebelum musibah ini terjadi. Petugas medis di lokasi pengungsian sempat memberikan pemeriksaan kesehatan untuk meringankan rasa sakit yang dideritanya.

"Ini tulangnya sakit di punggung. Tadi sudah dibawa ke ambulans. Kan saya habis operasi tulang punggung," katanya.

Saat menuturkan kembali rangkaian peristiwa malam itu, Saodah kembali tak kuasa menahan tangis. Di usianya yang sudah senja, ia harus menerima kenyataan pahit bahwa rumah yang menjadi tempat tinggal bersama anak, cucu, dan cicitnya kini rata dengan tanah.

"Semuanya kebakar," ucapnya lirih sembari menahan air mata.

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar