Bantuan untuk mahasiswa dan dosen korban bencana di Sumatera akhirnya mulai mengalir. Tak cuma sembako, ada juga bantuan biaya hidup langsung.
Di sisi lain, pemerintah lewat Kemendikti Saintek ternyata sudah menyiapkan serangkaian program pemulihan yang cukup komprehensif. Intinya, mereka ingin memastikan kehidupan akademik para korban bisa segera kembali normal, atau setidaknya mendekati normal.
Fauzan Adziman, Direktur Riset dan Pengembangan Kemendikti Saintek, membeberkan hal ini di hadapan Komisi X DPR, Senayan, Jakarta, Senin lalu.
"Kami berikan pembebasan UKT satu sampai dua semester bagi mahasiswa terdampak atau yang keluarganya kena dampak bencana," ujarnya.
Menurut Fauzan, setidaknya ada tujuh langkah konkret yang disiapkan. Poin-poinnya beragam, mulai dari hal yang sangat mendasar sampai upaya pemulihan jangka panjang.
Pertama, mendirikan dapur umum di kampus-kampus yang berada di wilayah terdampak, seperti Aceh, Sumut, dan Sumbar. Ini khusus untuk mahasiswa yang jadi korban.
Kedua, soal Ujian Akhir Semester. Akan ada pengaturan yang lebih fleksibel bagi kampus dan mahasiswa dari keluarga korban. Mereka tak perlu dibebani jadwal yang kaku di tengah kesulitan seperti ini.
Ketiga, seperti yang sudah disebutkan, ada pembebasan UKT untuk satu atau dua semester.
Keempat, bakal ada penggalangan dan pengiriman bantuan mendesak. Makanan, pakaian, alat penjernih air, hingga tenaga kesehatan akan dikirim melalui kampus-kampus di zona bencana.
Kelima, aspek psikologis tak dilupakan. Akan dibentuk tim psikososial untuk dosen, mahasiswa, dan masyarakat. Tim ini akan berkolaborasi dengan psikolog, pengurus BEM, dan relawan terlatih lainnya.
Keenam, bantuan fasilitas pembelajaran akan diberikan agar proses belajar bisa pulih.
Terakhir, pemulihan infrastruktur pembelajaran dan sosial akan dilakukan melalui program-program pengabdian masyarakat yang berdampak.
Sebelum program tujuh poin itu, sebenarnya bantuan tunai langsung sudah lebih dulu disiapkan. Besarannya berbeda antara mahasiswa dan dosen.
Fauzan menjelaskan rinciannya. "Untuk mahasiswa, bantuannya Rp 1,25 juta per bulan, atau Rp 3,75 juta untuk tiga bulan. Total anggarannya Rp 59,375 miliar, mencakup 15.833 mahasiswa," katanya.
Sementara itu, untuk 554 dosen yang terdampak dan sudah terdata, bantuan yang disiapkan lebih besar. Mereka akan menerima Rp 4,5 juta per bulan, atau Rp 9 juta untuk dua bulan. Total anggaran untuk bantuan dosen ini mencapai hampir Rp 5 miliar.
Langkah-langkah ini tampaknya ingin menjangkau berbagai sisi kehidupan korban. Mulai dari urusan perut, biaya kuliah, sampai kesehatan mental. Tentu, implementasi di lapangan yang akan membuktikan keefektifannya.
Artikel Terkait
Mobil Boks Terguling di Jalur Banjar-Pangandaran, Sopir Terjebak Dua Jam
Kericuhan Usai Persib Kalahkan Bhayangkara, Suporter Lempar Flare ke Arah Steward
Shakhtar Donetsk Jamu Crystal Palace di Semifinal Conference League di Polandia Akibat Perang
Braga dan Freiburg Bersaing Ketat di Semifinal Liga Europa, Leg Kedua Jadi Penentu