Ia menegaskan, AS tak akan pernah menyetujui perjanjian apa pun yang membiarkan Teheran mengembangkan senjata nuklir. Poin ini tetap menjadi batu sandungan utama.
Konflik ini sendiri punya akar yang rumit. Sejak AS dan Israel memulai aksi militer pada akhir Februari lalu, Iran langsung bereaksi dengan menutup Selat Hormuz. Hanya kapal-kapal benderanya sendiri yang boleh lewat, itupun dengan syarat ketat dan dikenai biaya. Padahal, selat sempit itu adalah urat nadi energi global; hampir seperlima pasokan minyak dan gas dunia pernah mengalir melaluinya. Dampak penutupan ini terasa luas sekali.
Sebagai balasan, militer AS tak tinggal diam. Mereka mengumumkan mulai memblokir lalu lintas kapal yang keluar-masuk pelabuhan Iran mulai Senin lalu. Teheran pun membalas dengan ancaman: kapal angkatan laut yang melintas bisa diserang, dan pelabuhan negara-negara tetangga di Teluk tak akan aman. Suasana jadi mencekam.
Namun begitu, satu hari setelah blokade AS diumumkan, situasi di lapangan terlihat lebih tenang dari yang dibayangkan. Belum ada laporan tindakan langsung Washington untuk menegakkan kebijakan blokade itu terhadap kapal-kapal yang melintas.
Data pelayaran terbaru justru menunjukkan sesuatu: setidaknya tiga kapal tanker yang dikaitkan dengan Iran terpantau melintas dengan tenang di Selat Hormuz. Mereka tidak menuju atau berasal dari pelabuhan Iran. Sebuah detail kecil yang mungkin punya arti besar, atau mungkin hanya jeda sebelum badai berikutnya datang.
Artikel Terkait
Petugas KRL Manggarai Dapat Penghargaan Usai Hadapi Penumpang Nekat Masuk Gerbong
Dedi Mulyadi Apresiasi Nelayan Malang Penyelamat Hiu Paus
Tawuran Dini Hari di Ciampea Bogor, Dua Remaja Terluka dan Tujuh Diamankan
KRI Canopus-936 Tiba di Cape Town dalam Misi Diplomasi Maritim