Korlantas Polri: Operasi Ketupat 2026 Tekan Angka Kecelakaan 5,31% dan Fatalitas 30%

- Jumat, 03 April 2026 | 23:05 WIB
Korlantas Polri: Operasi Ketupat 2026 Tekan Angka Kecelakaan 5,31% dan Fatalitas 30%

Di Rupatama Korlantas Polri, Kamis (2/4) lalu, suasana tampak berbeda. Irjen Agus Suryonugroho, sang Kakorlantas, bukan cuma bertemu dengan stafnya. Hari itu, ia menerima audiensi sejumlah pakar transportasi. Tujuannya jelas: mengevaluasi pelaksanaan Operasi Ketupat 2026 yang bertugas mengamani arus mudik dan balik Lebaran.

Pertemuan itu sendiri lebih dari sekadar laporan rutin. Menurut Agus, operasi tahun ini punya nuansa lain. Fokusnya tak lagi semata-mata pada pengamanan lalu lintas atau penanganan kriminalitas. Ada dimensi lain yang ditekankan: kemanusiaan. Negara, lewat operasi ini, berusaha hadir untuk memastikan perjalanan masyarakat aman dan nyaman, sekaligus menjaga momentum spiritual Idulfitri.

"Operasi Ketupat tahun ini konsepnya berbeda," tegas Irjen Agus.

"Bukan hanya mengelola kriminalitas dan lalu lintas, tetapi negara hadir untuk menjaga momentum sosial dan spiritual masyarakat selama Idulfitri."

Namun begitu, tantangan di lapangan ternyata tidak kecil. Mobilitas masyarakat tahun ini melonjak drastis, bahkan disebut-sebut sebagai salah satu yang tertinggi sepanjang sejarah. Bayangkan saja, lebih dari 270 ribu kendaraan memadati jalan tol keluar Jakarta hanya dalam satu hari. Angka yang fantastis dan tentu saja berpotensi memacetkan segala ruas jalan.

Menyikapi hal itu, Korlantas Polri pun tak tinggal diam. Berbagai rekayasa lalu lintas diterapkan, mulai dari contraflow hingga sistem one way nasional. Langkah ini penting untuk menjaga agar arus kendaraan tetap bisa bergerak, meski pelan.

"Kalau tidak dilakukan rekayasa lalu lintas seperti contraflow dan one way, kendaraan tidak akan bisa bergerak," ujarnya menerangkan.

"Volume kendaraan sangat tinggi, perbandingan antara panjang jalan dan jumlah kendaraan tidak seimbang. Maka harus ada intervensi rekayasa lalu lintas."

Di sisi lain, operasi ini juga menuntut pendekatan yang lebih personal. Anggota Polri di lapangan tidak sekadar menjadi pengatur jalan. Mereka juga dituntut untuk memberikan pelayanan yang humanis memberi informasi, bantuan, dan imbauan keselamatan kepada para pemudik. Ini sejalan dengan semangat operasi kemanusiaan yang digaungkan.

"Operasi Ketupat ini adalah operasi kemanusiaan," lanjut Agus menegaskan.

"Anggota di lapangan tidak hanya mengatur lalu lintas, tetapi juga membantu masyarakat selama perjalanan mudik. Semua itu harus dikelola dengan pendekatan kemanusiaan."

Lalu, bagaimana hasilnya? Ternyata upaya keras itu membuahkan angka yang cukup menggembirakan. Selama Operasi Ketupat 2026 dan masa Kegiatan Rutin Yang Ditingkatkan (KRYD), statistik kecelakaan lalu lintas berhasil ditekan. Angka kejadiannya turun sekitar 5,31 persen. Yang lebih penting, fatalitas atau jumlah korban meninggal dunia anjlok signifikan, mencapai 30 persen.

"Berdasarkan data, angka kecelakaan selama Operasi Ketupat turun sekitar 5,31 persen dan fatalitas korban meninggal dunia turun sekitar 30 persen," tutup Kakorlantas mengakhiri paparannya.

Sebuah pencapaian yang, meski di tengah kepadatan luar biasa, patut diapresiasi.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar