Jakarta - Lagi-lagi, perundingan AS dan Iran mentok. Kali ini di Pakistan. Hasilnya? Nihil. Dan seperti yang sudah diduga, sentimen itu langsung mendorong harga minyak global melonjak, bahkan tembus di atas level psikologis US$100 per barel.
Di tengah gejolak itu, justru ada angin segar untuk pasar saham domestik. Saham-saham sektor minyak dan gas (migas) di Bursa Efek Indonesia kompak menguat di pembukaan perdagangan pagi ini.
Data dari trading view sekitar pukul 09.20 WIB mencatat, harga minyak Brent melesat 8,55% ke posisi US$102,30 per barel. Kenaikan tajam ini langsung direspons positif oleh investor lokal.
PT Energi Mega Persada Tbk. (ENRG) menguat 2,05% ke Rp1.740. Bersamanya, saham PT Medco Energi Internasional Tbk. (MEDC) juga naik 3,54% ke Rp1.610. Tak ketinggalan, saham PT AKR Corporindo Tbk. (AKRA) merangkak naik 1,08% ke Rp1.405.
Gelombang penguatan ternyata cukup luas. Saham-saham seperti Elnusa (ELSA), Perusahaan Gas Negara (PGAS), Rukun Raharja (RAJA), dan Raharja Energi Cepu (RATU) juga ikut mencatatkan keuntungan, dengan kenaikan bervariasi antara 1,5% hingga hampir 3%.
Lantas, ke mana arah harga minyak selanjutnya? Analis dari BRI Danareksa Sekuritas, Andhika Audrey dan Naura Reyhan Muchlis, punya tiga skenario. Semuanya bergantung pada tingkat eskalasi konflik AS-Iran dan potensi gangguan di Selat Hormuz jalur perdagangan minyak yang super vital.
Jika gangguannya ringan, harga Brent bisa bertengger di kisaran US$80-US$90 per barel. Skenario kedua, jika gangguan berlanjut, lonjakan ke level US$105-US$115 per barel sangat mungkin terjadi. Yang paling ekstrem, jika konflik berkepanjangan, jangan kaget melihat harga minyak melejit ke angka US$110-US$135 per barel.
“Meski ada laporan peningkatan arus di Selat Hormuz belakangan, kami tetap memandang skenario gangguan moderat sebagai dasar analisis kami,” tulis tim analis dalam risetnya.
Dengan asumsi itu, mereka memproyeksikan sektor hulu migas akan tampil lebih baik (outperform) dibanding sektor lain dalam tiga bulan ke depan.
Di antara banyak pilihan, MEDC jadi rekomendasi utama BRI Danareksa. Target harganya Rp2.000. Alasan mereka kuat. Perusahaan ini punya target produksi migas yang ambisius di tahun 2026, sekitar 165.000-170.000 barel setara minyak per hari. Selain itu, laba MEDC dikenal sangat sensitif terhadap pergerakan harga minyak dunia.
Namun, tidak semua analis sepakat. Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Hari Rachmansyah, punya favorit lain.
Artikel Terkait
Wakil Ketua DPR Prihatin, 6 Kepala Daerah Ditangkap KPK Sejak Awal 2026
Survei Poltracking: 74,1% Publik Puas dengan Kinerja Pemerintahan Prabowo-Gibran
Mendagri Imbau Daerah di Sumut Salurkan Dana Hibah ke Aceh yang Terdampak Bencana
AS Blokade Selat Hormuz Usai Perundingan dengan Iran Gagal