Di Hotel Aryaduta, Jakarta, Sabtu lalu, suasana cukup hangat. Acara peluncuran dan bedah buku karya Boni Hargens, 'Ilmu Politik dari Zaman Klasik hingga Era Digital', menarik perhatian sejumlah pengamat. Salah satu pembicaranya, Guru Besar Ilmu Politik Lili Romli, tak ragu memberi pujian tinggi.
Menurut Romli, buku setebal 582 halaman ini layak jadi rujukan nasional. Ia melihatnya sebagai karya komprehensif yang mampu menjembatani teori klasik dengan realitas politik digital sekarang. "Profisiat kepada Boni Hargens," ujarnya.
Tak cuma untuk mahasiswa, Romli menilai buku ini penting juga bagi pelaku politik, baik yang berada di dalam maupun luar institusi formal. Ia melihat ada upaya menghubungkan ilmu politik dengan disiplin lain, bahkan seluruh aspek kehidupan.
Di sisi lain, Romli juga menyoroti satu bab yang ia anggap sangat kekinian: bagaimana politik berkelindan dengan intelijen di era digital. "Itu sesuatu yang menarik. Bagaimana ilmu politik 'kawin' dengan ilmu intelijen untuk mengamankan kepentingan nasional," sambungnya.
Meski begitu, Romli mengakui ada beberapa bagian yang bisa disempurnakan. Bukan kelemahan, tapi peluang untuk pengembangan. Ia bahkan mendorong Boni menerjemahkan disertasinya tentang 'Oligarchic Cartelization in Post-Suharto Indonesia' ke Bahasa Indonesia.
Pendapat serupa datang dari pengamat lain, Karyono Wibowo. Direktur Eksekutif Indonesian Public Institute ini menyebut buku Boni sebagai paket lengkap yang kaya teori dan menunjukkan mazhab sang penulis: politik kenegaraan.
Artikel Terkait
Cuaca Ekstrem dan Hujan Es Landa Bekasi, Sejumlah Pohon Tumbang Tutupi Jalan
Polisi Buru Preman Pelaku Pemalakan Rp100 Ribu kepada Sopir Bajaj di Tanah Abang
Perundingan AS-Iran di Islamabad Buntu, Nasib Gencatan Senjata Dipertanyakan
Ayah Tunanetra di Boyolali Hidupi Anak dari Jualan Cilok, Anak Kedua Dapat Sekolah Gratis