Karyono menekankan, Boni berusaha menunjukkan bahwa intelijen dan demokrasi bisa berjalan beriringan meski karakternya bertolak belakang keterbukaan versus kerahasiaan. "Pertanyaannya, apakah intelijen bisa sepenuhnya demokratis? Bisakah ia jadi instrumen penguatan demokrasi, atau justru sebaliknya?" katanya, mengingatkan pada kasus-kasus tertentu.
Peneliti BRIN Syafuan Rozi yang juga hadir, mengajak semua stakeholder, khususnya aktor politik, untuk membaca buku ini. Tujuannya agar perdebatan dan pengambilan kebijakan punya landasan filosofis yang kuat, demi kebaikan bersama.
Buku yang sudah dicetak dua kali Oktober 2025 dan Februari 2026 ini memang padat. Sepuluh babnya membahas dari teori, kekuasaan, ideologi, partai politik, hingga dampak teknologi digital.
Latar belakang Boni Hargens sendiri cukup menarik. Intelektual muda asal Manggarai, Flores ini pernah belajar filsafat di STF Driyarkara, lalu ilmu politik di UI. Jejak pendidikannya berlanjut ke Universitas Humboldt, Berlin, sebelum akhirnya meraih gelar doktor dari Universitas Walden di Amerika Serikat.
Disertasinya itu, yang memadukan teori kartel dan oligarki dalam konsep "kartelisasi oligarkis", sudah terbit sebagai buku di Pennsylvania pada 2020. Karya itu masih bisa ditemui di berbagai platform buku internasional, menjadi bukti perjalanan pemikirannya yang panjang sebelum akhirnya melahirkan buku 'Ilmu Politik' untuk pembaca di tanah air.
Artikel Terkait
Cuaca Ekstrem dan Hujan Es Landa Bekasi, Sejumlah Pohon Tumbang Tutupi Jalan
Polisi Buru Preman Pelaku Pemalakan Rp100 Ribu kepada Sopir Bajaj di Tanah Abang
Perundingan AS-Iran di Islamabad Buntu, Nasib Gencatan Senjata Dipertanyakan
Ayah Tunanetra di Boyolali Hidupi Anak dari Jualan Cilok, Anak Kedua Dapat Sekolah Gratis