Di sisi lain, kita tidak bisa mengabaikan titik rawan lain: Selat Hormuz. Eskalasi di kawasan itu menjadi kunci. Bayangkan jika perang terbuka pecah dan jalur distribusi minyak tersumbat. Harga minyak mentah pasti akan meroket, dan lonjakan inflasi global adalah konsekuensi yang hampir tak terelakkan. Dalam kondisi ketidakpastian ekstrem seperti itu, emas kembali membuktikan diri. Ia bukan sekadar komoditas, tapi pelindung nilai yang paling dipercaya.
“Kenaikan harga minyak mentah berdampak negatif terhadap ekonomi global, dan orang menganggap sudah terjadi perang yang cukup dahsyat,” jelas Ibrahim.
“Ini yang membuat harga emas condong terus mengalami kenaikan.”
Faktor pendorong lain datang dari seberang lautan. Kebijakan moneter Amerika Serikat di bawah pemerintahan Donald Trump disebut-sebut bakal memberikan angin segar. Isu penunjukan Kevin Warsh sebagai calon penerus di bank sentral AS memicu spekulasi. Pasar mencium aroma kebijakan yang lebih akomodatif, bahkan potensi kerja sama yang lebih harmonis antara Gedung Putih dan The Fed untuk menurunkan suku bunga. Dan sejarah membuktikan, ketika suku bunga turun, daya pikat emas justru bersinar karena biaya peluangnya menipis.
Perlu diingat, berita ini bukan ajakan untuk membeli atau menjual. Setiap keputusan investasi adalah hak dan tanggung jawab penuh pembaca. Media ini tidak bertanggung jawab atas segala keuntungan atau kerugian yang mungkin timbul.
Artikel Terkait
Persija Gelar Workshop Fotografi ke-5 di Sela Laga Kandang
Korban Penyekatan Air Keras Tolak Kasusnya Diadili di Peradilan Militer
BMKG Pastikan Cahaya Misterius di Langit Malang adalah Sampah Antariksa
Hexindo Gelar RUPSLB Usai Mundurnya Dua Direktur Asal Jepang