Dari Papan Bekas Lima Ribuan ke Medali Emas SEA Games: Perjalanan Basral Graito

- Jumat, 19 Desember 2025 | 10:05 WIB
Dari Papan Bekas Lima Ribuan ke Medali Emas SEA Games: Perjalanan Basral Graito

Medali emas SEA Games Thailand 2025 itu terasa manis, tapi perjalanan Basral Graito meraihnya sungguh berliku. Kisahnya dimulai dari sebuah papan skateboard bekas yang harganya cuma lima ribu rupiah. Bayangkan saja.

Sunarto, ayah Basral yang kini berusia 55 tahun, masih ingat betul mula-mula anaknya jatuh cinta pada olahraga roda empat itu. Saat itu Basral masih duduk di bangku kelas tiga SD. Awalnya, minatnya justru pada sepeda BMX. “Ya sudah, saya belikan,” ujar Sunarto.

Namun begitu, hanya dalam hitungan tiga bulan, keinginannya berubah.

“Tiba-tiba dia bilang mau main skateboard. Padahal, sepedanya masih baru,” kenang Sunarto saat berbincang dengan awak media di rumahnya di Karanganyar, Kamis lalu.

“Waktu itu saya nggak langsung turuti. Masak baru beli sepeda, minta papan lagi?”

Naluri bermain Basral akhirnya tersulut bukan oleh hadiah dari orang tua, melainkan oleh sebuah ajang di Stadion Manahan. Di sana, dia menyaksikan langsung gegap gempita lomba skateboard dan BMX. Matanya berbinar. Tanpa punya peralatan sendiri, dia mulai nekat meminjam papan milik teman-temannya.

Sejak saat itu, hampir tiap hari Basral dan kakak sulungnya nongkrong bersama komunitas skateboard Solo. Bakat anak itu sebenarnya sudah kelihatan. Dia pun makin gigih mendesak ayahnya untuk membelikan papan.

“Alasannya simpel. Dia main ke rumah teman yang punya papan seharga seratus ribu. Awalnya sih boleh pinjam, tapi lama-lama kan nggak enak juga,” cerita Sunarto.

“Akhirnya, papan itu dia beli. Harganya? Cuma lima ribu rupiah.”

Jangan bayangkan papan yang bagus. Menurut sang ayah, kondisi papan murah meriah itu sudah jauh dari kata layak dan sama sekali tidak standar. Tapi, dari situlah segalanya bermula. Papan usang itu menjadi alat pertama Basral untuk mengasah gerakan-gerakan dasarnya.

Melihat keseriusan anaknya, Sunarto luluh. Beberapa waktu kemudian, dia membelikan papan skateboard bekas kedua yang kondisinya lebih baik. Nah, papan ini pun harus dipakai bergantian dengan sang kakak.

Perlombaan resmi pertamanya terjadi di Mangkunegaran. Hasilnya? Basral tidak menang. Tapi nasib baik berpihak. “Dapat doorprize, dapat papan skateboard baru,” ucap Sunarto dengan senyum.

Basral sendiri lahir di Tangerang, 22 Januari 2007. Keluarganya kemudian memutuskan pindah dan menetap di sebuah rumah sederhana di Desa Tohudan, Colomadu, Kabupaten Karanganyar. Dari sanalah, seorang juara bertumbuh.

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar