Ia juga menyoroti kekerasan yang terjadi baru-baru ini. Serangan Israel pada Rabu lalu, yang ia sebut sebagai "kejahatan berdarah", diklaim telah menewaskan lebih dari 300 orang di Lebanon. Suaranya jelas: situasi ini tidak bisa diabaikan begitu saja.
Di sisi lain, dari kubu Israel, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu justru terlihat membuka opsi dialog. Sehari sebelum pengumuman Lebanon, tepatnya Kamis, Netanyahu menyatakan telah memerintahkan pejabatnya untuk memulai negosiasi langsung dengan Beirut “sesegera mungkin”.
Lucunya, pernyataan itu keluar bersamaan dengan lanjutnya serangan udara Israel di wilayah Lebanon. Dalam pernyataannya, Netanyahu menegaskan bahwa fokus negosiasi nanti adalah perlucutan senjata Hizbullah dan upaya membangun hubungan damai antara kedua negara.
Amerika Serikat, seperti yang diperkirakan banyak pihak, akan bertindak sebagai tuan rumah. Seorang pejabat Departemen Luar Negeri AS mengonfirmasi bahwa negosiasi langsung antara Tel Aviv dan Beirut akan digelar pekan depan di Washington DC.
Pertemuan pembuka direncanakan berlangsung di gedung Departemen Luar Negeri. Duta Besar AS untuk Lebanon, Michel Issa, akan hadir mewakili kepentingan Washington.
Untuk pertemuan penting ini, Tel Aviv mengirimkan Duta Besarnya untuk AS, Yechiel Leiter. Sementara Beirut diwakili oleh Duta Besar Lebanon untuk AS, Nada Hamadeh-Moawad.
Suasana perundingan diprediksi akan sangat tegang. Seperti dilaporkan Channel 14, media Israel, negosiasi ini “akan berlangsung di bawah serangan”. Sebuah frasa yang merujuk pada eskalasi militer yang masih berkecamuk di selatan Lebanon, mengingatkan semua pihak bahwa waktu untuk berdiplomasi mungkin sangat terbatas.
Artikel Terkait
Bhayangkara FC Waspadai Persijap Jepara Meski dalam Momentum Positif
Polda Sumsel Bedah Rumah Warga Kurang Mampu dalam Rangka Hari Bhayangkara
Ditlantas Polda Metro Jaya Gelar SIM Keliling di Lima Titik Jakarta
Marseille Kalahkan Metz 3-1, Pacu ke Posisi Tiga Klasemen Ligue 1