Cara pembayarannya menarik. Pokok utangnya akan dilunasi sekaligus di akhir masa jatuh tempo, tepatnya pada 13 Mei 2033. Sistem bullet payment seperti ini memang umum. Sementara untuk bunganya, akan dibayar setiap tiga bulan sekali.
Lalu, uang sebesar Rp175 miliar itu mau dipakai buat apa? Menurut rencana, dana hasil penerbitan setelah dipotong biaya emisi akan dialokasikan untuk modal kerja. Cakupannya luas, mulai dari gaji karyawan, sewa dan perawatan kantor, sampai keperluan korporasi umum lainnya. Intinya, untuk mendukung kebutuhan operasional sehari-hari perusahaan.
Namun begitu, kondisi keuangan TOBA tahun lalu patut jadi catatan. Laporan mereka menunjukkan pendapatan turun 14,7% menjadi US$380,22 juta atau sekitar Rp6,35 triliun. Yang lebih berat, mereka mencatatkan rugi bersih hingga US$162 juta (sekitar Rp2,7 triliun).
Kerugian itu tak lepas dari dua faktor utama. Pertama, tentu saja tekanan dari harga batu bara global yang melemah sepanjang 2025. Kedua, ada beban non-kas yang cukup signifikan, mencapai US$97 juta, akibat divestasi aset PLTU. Langkah divestasi ini sendiri merupakan bagian dari transformasi perusahaan menuju bisnis rendah karbon.
Jadi, di tengah upaya transformasi dan kondisi pasar yang menantang, penerbitan obligasi tahap ketiga ini menjadi langkah krusial bagi TOBA untuk menjaga likuiditas dan melanjutkan operasional usahanya.
Artikel Terkait
BEI Ungkap 9 Emiten dengan Kepemilikan Saham Terlalu Terkonsentrasi
Presiden Prabowo Dikawal Enam Jet Tempur dalam Penerbangan ke Magelang, Sambut HUT ke-80 TNI AU
Pemerintah Arahkan Motor Listrik untuk Pasar Domestik, Motor BBM Digenjot Ekspor
Anggota DPR Ingatkan Ulang Ancaman Kolaps BPJS Kesehatan pada 2026