"Pesan kami jelas: siapa pun yang bertindak melawan warga sipil Israel -- kami akan menyerang mereka. Kami akan terus menyerang Hizbullah di mana pun diperlukan, sampai kami sepenuhnya memulihkan keamanan bagi penduduk di utara Israel," imbuhnya.
Serangan pada hari Rabu (8/4) itu sendiri memang luar biasa skalanya. Menghantam pusat Beirut yang padat, juga wilayah selatan dan timur Lebanon. Ini disebut-sebut sebagai serangan terbesar sejak Hizbullah terlibat dalam konflik yang meluas awal Maret lalu.
Militer Israel (IDF) menggambarkannya sebagai gelombang serangan udara terbesar ke negara tetangga itu. Klaim mereka, lebih dari 100 target komando dan militer Hizbullah dilibas hanya dalam sepuluh menit. Dampaknya sungguh tragis.
Korban jiwa berjatuhan. Data terbaru dari Kementerian Kesehatan Lebanon menyebutkan, sedikitnya 182 orang tewas dan hampir 900 lainnya luka-luka hanya dalam sehari itu. Angka yang memilukan.
Namun begitu, ini bukanlah awal. Jumlah tersebut menambah panjang daftar korban yang telah berjatuhan selama enam pekan terakhir. Sebelumnya, tercatat sekitar 1.700 orang, termasuk 130 anak-anak, telah kehilangan nyawa di Lebanon akibat konflik ini. Situasinya makin suram, dan jalan menuju perdamaian terasa semakin jauh.
Artikel Terkait
Keluarga Laporkan Suami Gadungan yang Klaim Anak Pejabat DPRD Makassar
BNPP Soroti Peran Strategis Dai dalam Pembangunan Kawasan Perbatasan
Hizbullah Tolak Rencana Israel untuk Negosiasi Langsung dengan Lebanon
Megawati Terima Kunjungan Dubes Saudi, Bahas Hadiah Anggrek hingga Gelar Doktor Kehormatan