Serangan Israel ke Lebanon yang terjadi Rabu lalu benar-benar memicu kecaman keras dari Moskow. Rusia tak main-main, mereka mendesak agar serangan-serangan itu dimasukkan dalam cakupan gencatan senjata AS-Iran yang sedang berjalan. Menurut mereka, kesepakatan itu punya dimensi regional, yang tentunya mencakup Lebanon.
Kemarahan itu disampaikan langsung oleh Menteri Luar Negeri Sergei Lavrov. Dalam percakapan telepon dengan rekannya dari Iran, Abbas Araghchi, Lavrov menegaskan posisi negaranya.
Pemerintah Rusia dalam siaran persnya menyatakan, mereka "sangat yakin bahwa perjanjian-perjanjian ini memiliki dimensi regional dan, khususnya, berlaku untuk Lebanon."
Suara serupa datang dari juru bicara Kementerian Luar Negeri, Maria Zakharova. Dia dengan tegas mengutuk aksi Israel. Menurut Zakharova, tindakan agresif seperti ini berisiko besar menggagalkan proses negosiasi yang sudah susah payah dibangun.
Di sisi lain, sikap Israel justru berbanding terbalik. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu bersikukuh dengan jalurnya. Sehari setelah serangan besar-besaran itu, dia menegaskan bahwa Israel akan terus menyerang Hizbullah "di mana pun diperlukan."
"Kami terus menyerang Hizbullah dengan kekuatan, ketepatan, dan kegigihan," tulis Netanyahu di platform media sosialnya.
Artikel Terkait
Keluarga Laporkan Suami Gadungan yang Klaim Anak Pejabat DPRD Makassar
BNPP Soroti Peran Strategis Dai dalam Pembangunan Kawasan Perbatasan
Hizbullah Tolak Rencana Israel untuk Negosiasi Langsung dengan Lebanon
Megawati Terima Kunjungan Dubes Saudi, Bahas Hadiah Anggrek hingga Gelar Doktor Kehormatan