Nantinya, akan ada studio seni, ruang pamer, bahkan area pertunjukan. Semua itu terbuka untuk komunitas dan institusi seni, termasuk tentu saja IKJ. Menurut Pramono, langkah ini punya tujuan ganda.
Di satu sisi, untuk memperkuat identitas Kota Tua sebagai poros ekonomi kreatif. Di sisi lain, kehadiran anak-anak muda IKJ diharapkan bisa menyuntikkan energi segar. Dinamika seni yang hidup dan interaksi langsung dengan publik jadi tujuan utamanya.
Ia bahkan menyebutkan sebuah analogi.
Jadi, skemanya jelas. Cikini tetap jadi rumah utama. Sementara di Kota Tua, para seniman masa depan itu mendapat kanvas baru yang lebih luas untuk menggoreskan ide-ide mereka. Sebuah solusi yang, setidaknya untuk saat ini, terlihat menjanjikan bagi semua pihak.
Artikel Terkait
Keluarga Laporkan Suami Gadungan yang Klaim Anak Pejabat DPRD Makassar
BNPP Soroti Peran Strategis Dai dalam Pembangunan Kawasan Perbatasan
Hizbullah Tolak Rencana Israel untuk Negosiasi Langsung dengan Lebanon
Megawati Terima Kunjungan Dubes Saudi, Bahas Hadiah Anggrek hingga Gelar Doktor Kehormatan