Siswa SMP Tewas Usai Dipukul Kursi, Sembunyikan Penderitaan Dema Lindungi Ibu Sakit Jantung

- Rabu, 19 November 2025 | 19:12 WIB
Siswa SMP Tewas Usai Dipukul Kursi, Sembunyikan Penderitaan Dema Lindungi Ibu Sakit Jantung
Kasus Bullying Berujung Maut di Tangsel

Tragedi Siswa SMP: Bullying Berujung Maut, Korban Sembunyikan Penderitaan Demi Lindungi Ibu

Sebuah kisah pilu terungkap dari balik meninggalnya siswa SMPN 19 Tangsel berinisial MH (13). Remaja kelas VII-6 ini ternyata telah menjadi korban perundungan sistematis sejak masa orientasi sekolah, dengan memilih menyimpan sendiri penderitaannya demi melindungi kondisi kesehatan sang ibu.

Korban lebih memilih bercerita kepada kakaknya, Sahara Kusnadi, karena khawatir memperburuk kondisi ibu yang mengidap penyakit jantung dan harus menjalani cuci darah rutin.

"Dia selalu khawatir ibunya akan terkena dampak secara emosional jika mengetahui yang sebenarnya terjadi," ungkap Sahara saat ditemui di kediaman mereka di Kampung Maruga, Ciater.

Siklus Kekerasan Dimulai Sejak MPLS

Menurut penuturan keluarga, pola perundungan terhadap MH sudah berlangsung sejak Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS). Awalnya berupa pelecehan verbal yang kemudian meningkat menjadi kekerasan fisik.

"Insiden bermula saat MH mengobrol dengan teman dekatnya. Tiba-tiba ada siswa lain yang melempar bungkus makanan ke arahnya. Karena tidak terima, MH melempar balik, namun justru mengenai pelaku utama yang kemudian membalas dengan menamparnya," jelas Sahara.

Perubahan Perilaku dan Upaya Menghindar

Pascainsiden tersebut, MH mulai menunjukkan pola menghindar dari sekolah. Ia kerap mengaku sakit atau membuat alasan untuk tidak berangkat, meski kemudian terlihat bermain dengan teman di sekitar rumah pada jam sekolah.

"Kadang dia memohon, 'Kak, izinin aku sakit dong.' Tapi kemudian terlihat bermain pada pukul 08.00-09.00. Ini jelas menunjukkan ada sesuatu yang tidak beres," tambah Sahara.

Pengakuan Terpaksa Setelah Ada Bukti Fisik

Ayah MH, Kusnadi, mengungkapkan keluarga mulai curiga dengan perubahan kondisi fisik putranya. MH sering terlihat tidak stabil saat berjalan, pandangan mata tidak fokus, dan kerap tersandung tanpa alasan jelas.

"Kami memperhatikan cara jalannya yang aneh dan dia minta obat tetes mata. Setelah didesak terus, akhirnya di hari Selasa (21 Oktober) dia mengaku telah dipukul menggunakan kursi oleh teman sekelasnya," tutur Kusnadi.

Proses Hukum dan Harapan Keluarga

Keluarga kini menyerahkan sepenuhnya proses hukum kepada Lembaga Bantuan Hukum (LBH) yang mendampingi kasus ini. Kusnadi berharap tragedi yang menimpa putranya bisa menjadi momentum perubahan.

"Kami mendambakan keadilan untuk MH. Semoga ini menjadi kasus terakhir dan tidak ada lagi korban bullying seperti yang dialami putra kami. Pemerintah harus lebih tegas menangani masalah ini," tegas Kusnadi.

Investigasi terhadap kasus ini masih terus berlanjut dengan melibatkan pihak sekolah dan aparat penegak hukum untuk mengungkap tuntas kronologi dan akar permasalahan yang terjadi.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar