Agenda ternyata tak cuma soal kejahatan konvensional. Isu lingkungan, khususnya kabut asap dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla), juga masuk dalam pembicaraan. Herry menyebut, langkah preventif seperti program Desa Bebas Api sudah dijalankan, termasuk penegakan hukum terhadap puluhan pelaku pembakaran. Ia bahkan mengajak Malaysia untuk patroli udara bersama. Tujuannya, memantau kondisi langsung dan mengantisipasi dampak kabut asap di kawasan regional.
Kunjungan ini juga menyempatkan pertemuan dengan sejumlah nama penting. Seperti Tan Sri Abdul Hamid Bador dan Datuk Ing. Mereka berdiskusi tentang refleksi kerja sama penanganan terorisme dan penguatan program deradikalisasi.
Yang menarik, dari pertemuan dengan unit counter terrorism E8 Malaysia, terungkap fenomena baru. Radikalisasi kini menyasar anak muda lewat media sosial dan bahkan game online. Menghadapi ini, kedua pihak sepakat untuk memperkuat pertukaran informasi intelijen. Deteksi dini dianggap kunci.
Sebelum pulang, pertemuan terakhir dilakukan dengan Ketua Polis Melaka, DCP Dzulkhairi Mukhtar. Mereka kembali menekankan pentingnya kolaborasi di berbagai bidang, mulai dari karhutla, terorisme, hingga kejahatan lintas negara lainnya. Herry, yang merupakan lulusan Akpol 1996 ini, juga menyentuh sisi kultural. Ia mengingatkan kedekatan historis dan budaya antara Riau dan Melaka sebagai modal berharga.
Melalui serangkaian pertemuan intens ini, komitmen untuk membangun sistem yang terintegrasi semakin kuat. Mulai dari berbagi informasi intelijen, patroli bersama, sampai pelatihan lintas negara. Harapannya jelas: kerja sama ini tak berujung pada seremonial belaka.
Artikel Terkait
Pemadaman Listrik Melanda Sejumlah Wilayah Jakarta, PLN Pastikan Kembali Normal Pukul 20.00 WIB
Pria di Cakung Bacok Kakak Kandung Usai Ditegur Lantaran Diduga Mengintip
Banding Ditolak, Leicester City Tetap Terancam Degradasi Usai Potongan Poin
Kejati DKI Geledah Kementerian PU Terkait Dugaan Korupsi Dana APBN