Sebagai produsen CPO terbesar dunia yang menguasai 60 persen pasar global, langkah ini dinilai tepat. Dengan mengalihkan 5,3 juta ton untuk biofuel, impor solar bisa dihentikan. Negara diuntungkan dari penghematan, sementara petani menikmati harga jual yang lebih baik. Industri energi dalam negeri pun jadi lebih mandiri.
Menariknya, kenaikan harga itu justru mendorong petani untuk lebih serius merawat kebunnya. Produktivitas meningkat, dan produksi nasional bertambah sekitar 6 juta ton dalam periode tersebut. Jadi, pengalihan CPO untuk kebutuhan domestik sama sekali tidak menggerus kinerja ekspor. Malah sebaliknya.
Pemerintah sendiri menegaskan, prioritas utama tetap pemenuhan kebutuhan dalam negeri baik energi maupun pangan. Baru setelah itu, kelebihan produksi disalurkan untuk ekspor.
Amran menegaskan, B50 ini bukan lagi wacana. Implementasinya sudah berjalan. Dan hasilnya nyata: impor solar berhenti, sementara ekspor dan produksi malah naik secara bersamaan.
Ia juga menanggapi usulan sejumlah pihak yang meminta penundaan. Bagi Mentan, kemandirian energi adalah hal krusial di tenga gejolak geopolitik saat ini. Data berbicara sendiri. Indonesia mampu mencukupi kebutuhan sendiri sekaligus meningkatkan ekspor. Kekhawatiran soal pasokan, menurutnya, kurang berdasar.
"Ekspor kita justru naik menjadi 32 juta ton. Jadi kita memanfaatkan dengan baik, petani kita memanfaatkan dengan baik kondisi geopolitik yang memanas karena harga komoditas perkebunan naik cukup tinggi," tegasnya.
Artikel Terkait
Harga Emas Antam Naik Rp 50.000 per Gram, Buyback Melonjak Lebih Tajam
PBB: Tiga Prajurit TNI Gugur di Lebanon Akibat Tembakan Tank Israel dan IED Hizbullah
AS dan Iran Sepakat Gencatan Senjata Dua Pekan, Selat Hormuz Dibuka
Polisi Tangkap Pria di Bengkalis Diduga Bakar Lahan Setengah Hektar