Trump Usulkan Tarif Lintas di Selat Hormuz Usai Klaim Kemenangan atas Iran

- Selasa, 07 April 2026 | 06:45 WIB
Trump Usulkan Tarif Lintas di Selat Hormuz Usai Klaim Kemenangan atas Iran

Presiden AS Donald Trump punya ide baru yang mengejutkan. Usai mengklaim kemenangan atas Iran, ia membuka wacana bahwa Amerika Serikat bisa saja memberlakukan tarif bagi kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz. Gagasan ini, jika diterapkan, jelas mengisyaratkan satu hal: ambisi Washington untuk menguasai secara langsung jalur pelayaran paling strategis di dunia itu.

"Bagaimana kalau kita yang mengenakan tarif?" ujar Trump, seperti dilaporkan Al Jazeera, Selasa (7/4/2026). "Saya lebih memilih itu daripada membiarkan mereka yang mendapatkannya. Mengapa tidak? Kita adalah pemenangnya. Kita menang."

Klaim kemenangan itu ia ulang lagi. Menurutnya, Iran sudah kalah secara militer. Narasi ini terus digaungkan sejak awal konflik, meski kenyataannya Teheran masih tetap melancarkan serangan drone dan rudal, sambil mempertahankan blokade di selat tersebut.

"Satu-satunya yang mereka miliki adalah efek psikologis seperti, 'Oh, kita akan menebar beberapa ranjau di laut.' Baiklah, tidak. Maksud saya, kami punya konsep untuk mengenakan tol," tambahnya dengan nada khas.

Di sisi lain, kita tahu Selat Hormuz bukan sembarang perairan. Sebagian besar wilayahnya berada di bawah yurisdiksi Oman dan Iran. Jalur sempit ini adalah urat nadi energi global; sebelum perang, sekitar seperlima pasokan minyak dunia dan gas alam cair melintas di sini. Jadi, wacana tarif dari AS bukan main-main dampaknya.

Pernyataan Trump ini muncul bersamaan dengan ultimatum yang ia sebut "final". Isinya, Iran harus membuka kembali selat dan menyetujui syarat-syarat Washington. Jika tidak, infrastruktur sipil Iran seperti jembatan dan pembangkit listrik bisa jadi sasaran.

"Kita harus memiliki kesepakatan yang dapat saya terima, dan bagian dari kesepakatan itu adalah kita menginginkan lalu lintas minyak yang bebas," tegasnya.

Namun begitu, Iran tampaknya punya agenda lain. Menurut sejumlah laporan, mereka malah sudah mulai memungut biaya dari beberapa kapal yang diizinkan lewat. Situasinya memang berubah.

"Situasi Selat Hormuz tidak akan kembali ke kondisi sebelum perang," tulis Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, di platform X bulan lalu. Pernyataan itu seperti menegaskan babak baru telah dimulai.

Pandangan serupa disampaikan Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi. Ia mendorong terciptanya "tatanan baru" dalam pengelolaan selat pascakonflik. Tujuannya, katanya, untuk menjamin keamanan pelayaran tapi sekaligus menjaga kepentingan nasional Iran.

"Saya percaya bahwa setelah perang, langkah pertama adalah menyusun protokol baru untuk Selat Hormuz. Secara alami, hal ini harus dilakukan oleh negara-negara yang berada di kedua sisi selat," jelasnya kepada Al Jazeera pada Maret lalu.

Sementara itu, dari Gedung Putih ada sinyal lain. Mereka sebelumnya menyebut Trump sedang mempertimbangkan opsi untuk membebankan biaya perang kepada sekutu-sekutu Arab. Tujuannya? Menutup pengeluaran AS dalam konflik melawan Iran. Semuanya berputar pada soal siapa yang bayar, dan siapa yang dapat untung.

Jadi, wacana tarif Trump bukan sekadar omongan. Itu bagian dari pertarungan yang lebih besar: siapa yang berhak mengontrol gerbang energi dunia, dan dengan harga berapa.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar