Presiden Iran Klaim 14 Juta Warga Siap Berkorban, Muncul Kekhawatiran Rekrutmen Anak

- Selasa, 07 April 2026 | 19:15 WIB
Presiden Iran Klaim 14 Juta Warga Siap Berkorban, Muncul Kekhawatiran Rekrutmen Anak

tulis Ghalibaf dengan nada menantang.

Di sisi lain, gelombang mobilisasi ini bukannya tanpa kritik. Justru memicu kekhawatiran serius di tingkat global, terutama ketika menyentuh isu anak-anak. Jenderal Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), Hossein Yekta, pernah menyerukan lewat siaran televisi nasional agar orang tua mengajak anak mereka turun ke jalan untuk pengamanan wilayah.

Seruan semacam ini langsung disorot tajam oleh organisasi hak asasi manusia. Amnesty International sudah lebih dulu memperingatkan bahwa merekrut anak-anak – beberapa bahkan dilaporkan baru berusia 12 tahun – untuk tugas militer di pos pemeriksaan bisa dikategorikan sebagai kejahatan perang. Apalagi pos-pos yang dijaga relawan Basij itu sering jadi sasaran serangan udara, seperti dilaporkan sejumlah media.

Mengulang Sejarah?

Sejatinya, upaya rekrutmen massal ini punya preseden sejarah. Pasca-Revolusi Islam 1979, Pemimpin Agung Ruhollah Khomeini pernah menyerukan pembentukan “Angkatan Darat 20 Juta” lewat pasukan Basij. Sekarang, pemerintah Iran seperti mengaktifkan kembali skema lama itu. Mereka mengirim pesan singkat massal dan mengajak para purnawirawan tentara untuk kembali menunjukkan loyalitas.

Jadi, di balik klaim mobilisasi besar-besaran yang digaungkan Pezeshkian, ada sederet pertanyaan dan kekhawatiran yang menggelayut. Mulai dari validitas angka, hingga risiko pelanggaran hukum humaniter internasional yang nyata. Situasinya rumit, dan ketegangan masih terus berlangsung.

Editor: Melati Kusuma


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar