WTJJ Pacu Transformasi ESG, Refinancing Rp1,29 Triliun Jadi Pendanaan Hijau

- Selasa, 07 April 2026 | 18:00 WIB
WTJJ Pacu Transformasi ESG, Refinancing Rp1,29 Triliun Jadi Pendanaan Hijau

JAKARTA Bagi PT WIKA Tirta Jaya Jatiluhur (WTJJ), pendekatan ESG kini jauh lebih dari sekadar laporan tahunan. Entitas di bawah PT Wijaya Karya Tbk ini menyebutnya sebagai strategi inti, bahkan gerbang pembiayaan. Transformasi ini mereka pacu, dan hasilnya mulai terlihat.

WTJJ mengelola salah satu sistem air minum terbesar di negeri ini. Kapasitasnya mencapai 4.750 liter per detik, melayani DKI Jakarta, Bekasi, hingga Karawang. Sekitar dua juta jiwa bergantung pada layanan proyek Kerja Sama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU) SPAM Regional Jatiluhur I ini.

Menurut Direktur Utama WTJJ, Rendy Ardiansyah, paradigma perusahaan telah berubah. ESG tidak lagi dipandang sebagai beban administratif, melainkan fondasi pengambilan keputusan.

"Ini soal adaptasi dan pertumbuhan. ESG adalah strategi diferensiasi kami, sekaligus financing gateway untuk membuka akses pendanaan yang lebih luas," ujar Rendy dalam keterangan tertulis, Selasa (7/4/2026).

Dia melanjutkan, sektor infrastruktur seperti air itu padat modal dan rentan terhadap gejolak pasar. Nah, di sinilah ESG berperan penting. Ia menjadi instrumen untuk memperkuat profil risiko di mata investor dan lembaga keuangan.

Buktinya? Pada 2025 lalu, WTJJ sukses melakukan refinancing. Mereka mengalihkan pinjaman konvensional senilai Rp1,29 triliun menjadi pendanaan hijau. Pencapaian ini, tentu saja, mencerminkan kepercayaan yang tumbuh terhadap komitmen keberlanjutan perusahaan.

Di sisi lain, pengakuan juga datang dari panggung global. S&P Global, pada Februari 2026, memberi WTJJ skor ESG 55. Angka itu menempatkan perusahaan di peringkat pertama nasional untuk kategori air, bahkan masuk lima besar dunia. Sebuah pencapaian yang patut disimak.

Namun begitu, transformasi ini tidak instan. Semua berawal dari internal. WTJJ menyelaraskan dulu visi, misi, dan pola pikir seluruh jajaran perusahaannya. Baru setelah pondasi itu kuat, mereka membangun kepercayaan dari pihak eksternal.

Implementasinya kemudian diwujudkan dalam hal-hal yang sangat konkret. Fokus utama salah satunya adalah efisiensi energi. Maklum, biaya energi ini merupakan komponen terbesar dalam mengelola sistem air minum.

Mereka sudah mengadopsi teknologi variable speed drive di hampir semua pompa. Hasilnya, konsumsi listrik jadi lebih terukur dan bisa disesuaikan dengan kebutuhan nyata. Tak cuma itu, perusahaan mulai merambah energi terbarukan dan menerapkan sistem manajemen energi yang ketat. Upaya ini punya dua manfaat sekaligus: mengurangi emisi dan memperkuat ketahanan bisnis untuk jangka panjang.

Proyek yang beroperasi sejak Desember 2024 ini memang punya peran strategis. Ia memperkuat ketahanan air di perkotaan dan mengurangi ketergantungan pada air tanah. Dengan memanfaatkan air permukaan dari Waduk Jatiluhur, WTJJ berupaya menjamin pasokan air bersih yang aman dan berkelanjutan.

Rendy menegaskan satu hal. Investasi di sektor air bukan cuma urusan skema pendanaan yang canggih.

"Ini adalah komitmen jangka panjang untuk keberlanjutan layanan bagi masyarakat," tegasnya.

Ke depan, komitmen integrasi ESG akan terus diperkuat di semua lini bisnis. Dengan tata kelola transparan, manajemen risiko yang solid, serta dampak yang terukur, WTJJ optimis bisa membuka lebih banyak akses pembiayaan. Tujuannya satu: menghadirkan infrastruktur air berkelas dunia yang benar-benar berkelanjutan.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar