Bareskrim Polri kembali membongkar praktik nakal yang menyedot anggaran negara. Kali ini, fokusnya pada penyelewengan BBM dan elpiji bersubsidi. Kerugiannya tidak main-main, baik bagi masyarakat kecil maupun kas negara yang terus tergerus.
Menurut Brigjen Mohammad Irhamni dari Dirtipidter, modus yang paling sering ditemui terlihat sederhana tapi cerdik. Pelaku membeli solar bersubsidi secara berulang di berbagai SPBU. Solar itu tidak langsung dipakai, melainun ditimbun dulu di suatu tempat. Setelah terkumpul, baru dijual ke kalangan industri dengan harga normal yang jauh lebih mahal.
"Coba bayangkan," ujar Irhamni dalam konferensi pers di Lapangan Bhayangkara, Jakarta Selatan, Selasa (7/4/2026).
"Harga industri saat ini bisa mencapai Rp 24.000 per liter. Sementara harga subsidi cuma Rp 6.800. Selisihnya luar biasa. Seperti yang disampaikan Wakabareskrim, ini bisnis yang sangat menggiurkan bagi mereka."
Di sisi lain, cara mengangkut BBM-nya juga dirancang khusus. Kendaraan yang digunakan biasanya dimodifikasi dengan tangki berkapasitas besar, supaya sekali jalan bisa membawa volume yang lebih banyak.
Tak cuma itu, sistem pengawasan pun mereka akali. Salah satu triknya adalah memakai plat nomor palsu.
"Dengan plat palsu itu, pelaku bisa berganti-ganti barcode kendaraan," jelas Irhamni.
Alhasil, sistem pengamanan dan pengawasan Pertamina pun bisa disiasati dengan mudah. Mereka bebas bolak-balik membeli tanpa dikenali.
Artikel Terkait
Polisi Ungkap Peran Empat Tersangka Narkoba di Hiburan Malam New Zone Medan, dari Penyedia hingga Pengawas Razia
PBNU Kecam Kekerasan Seksual di Padepokan Pekalongan, Desak Proses Hukum Tuntas
Banjir Bandang dan Longsor di Bone Bolango, Seorang Warga Hanyut ke Laut Sebelum Berhasil Diselamatkan
Polisi Ajukan Red Notice ke Interpol untuk Buru Otak Pengiriman Pekerja Migran Ilegal ke Kamboja