Harga Plastik Melonjak Akibat Gejolak Energi Global, Industri dan UMKM Tertekan

- Selasa, 07 April 2026 | 17:15 WIB
Harga Plastik Melonjak Akibat Gejolak Energi Global, Industri dan UMKM Tertekan

Harga plastik melonjak. Itulah keluhan yang kini terdengar dari banyak pelaku industri, dari yang besar hingga para pengusaha kecil. Tekanan biaya produksi kian terasa, didorong oleh gejolak energi global yang tak kunjung reda. Dampaknya pun merembet, tak hanya menyentuh pabrik-pabrik, tetapi juga sampai ke pelaku UMKM dan akhirnya, ke kantong konsumen.

Material serba guna ini memang ada di mana-mana. Dari bungkus makanan ringan, botol minuman, hingga komponen manufaktur. Wajar saja kalau harganya naik, efek berantainya langsung terasa: rantai pasok ikut kacau dan harga berbagai produk di pasaran pun ikut terdongkrak.

Lalu, apa pemicu utamanya? Semuanya berawal dari gangguan di panggung dunia. Khususnya, distribusi energi global yang sedang bermasalah, yang ujung-ujungnya menghantam bahan baku industri petrokimia. Situasi ini memunculkan sederet pertanyaan: mengapa harga bisa naik secepat ini, seberapa parah dampaknya, dan kira-kira kapan kondisi akan membaik?

Dari Minyak Bumi Menjadi Plastik: Sebuah Rantai Panjang

Pada dasarnya, plastik adalah material sintetis hasil olahan industri petrokimia. Bahannya bersumber dari minyak bumi. Minyak mentah itu diolah, lalu menghasilkan nafta. Nah, nafta inilah yang menjadi titik awal segalanya.

Dari nafta, diproses lagi menjadi senyawa-senyawa dasar seperti etilena dan propilena. Dua senyawa inilah yang nantinya dibentuk menjadi berbagai jenis plastik yang kita kenal sehari-hari. Beberapa yang paling umum adalah Polyethylene (PE), Polypropylene (PP), dan Polystyrene (PS).

Karena ketergantungannya yang tinggi pada nafta, harga plastik jadi sangat rentan pada naik-turunnya harga minyak mentah. Begitu harga energi global bergejolak, biaya produksi plastik langsung meroket. Sederhananya, nasib plastik sangat terikat dengan kondisi pasar minyak dunia.

Mengapa Harganya Bisa Melambung Tinggi?

Penyebab utamanya, mau tidak mau, berkaitan dengan politik global. Eskalasi konflik di Timur Tengah melibatkan Iran, AS, dan Israel menciptakan gangguan serius. Titik krusialnya ada di Selat Hormuz, jalur laut vital untuk perdagangan minyak dunia.

Gangguan di sana langsung berimbas. Laporan menyebutkan, sebagian besar pasokan minyak global melewati selat itu. Jadi, ketika distribusi tersendat, harga energi langsung melonjak. Dan naiknya harga bahan baku petrokimia, termasuk nafta, pun tak terhindarkan.

Sekretaris Jenderal Asosiasi Industri Olefin, Aromatik, dan Plastik Indonesia (Inaplas), MURIANETWORK.COM Budiono, mengonfirmasi kerentanan ini.

Menurutnya, industri plastik dalam negeri masih sangat bergantung pada pasokan dari Timur Tengah. Angkanya cukup signifikan, sekitar 70 persen bahan baku masih berasal dari kawasan tersebut. Jadi, gejolak politik di sana dampaknya langsung terasa ke sini.

Dampaknya Terasa di Berbagai Lini

Editor: Agus Setiawan


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar