ITB Soroti Pentingnya Kombinasi FTTH dan FWA untuk Pemerataan Internet

- Selasa, 07 April 2026 | 19:45 WIB
ITB Soroti Pentingnya Kombinasi FTTH dan FWA untuk Pemerataan Internet

BANDUNG – Di Aula Timur ITB yang ramai, Selasa (7/4/2026) lalu, diskusi hangat soal masa depan internet Indonesia mengemuka. Institut Teknologi Bandung memang sengaja mengumpulkan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari mahasiswa, media, hingga pelaku industri, dalam sebuah seminar. Topiknya cukup teknis namun krusial: membandingkan strategi FTTH, FWA, dan Mobile Broadband untuk pemerataan akses digital.

Latar belakangnya jelas. Pembangunan infrastruktur broadband di tanah air sedang digenjot. Tapi di lapangan, pilihannya tidak hitam putih. Masing-masing teknologi punya kelebihan dan kekurangannya sendiri. Fiber to the Home (FTTH) dikenal andal, Fixed Wireless Access (FWA) lebih fleksibel, sementara mobile broadband sudah ada di genggaman banyak orang. Pertanyaannya, mana yang terbaik?

Menurut ITB, jawabannya tidak tunggal. Itulah mengapa forum ini dihadirkan. Dengan mempertemukan sudut pandang akademisi, regulator, dan industri, diharapkan tercipta gambaran yang lebih utuh. Strategi kedepan pun bisa dirancang dengan lebih efektif, tidak asal pukul rata.

Ian Josef Matheus Edward dari Pusat Studi Kebijakan Industri dan Regulasi Telekomunikasi STEI ITB langsung menekankan hal itu di awal diskusi.

“FTTH menawarkan kapasitas dan stabilitas terbaik, sementara FWA memberikan fleksibilitas dan kecepatan deployment. Keduanya perlu diposisikan sebagai solusi yang saling melengkapi,” ujarnya.

Ia menambahkan, teknologi wireless memang unggul dalam hal kemudahan penggelaran. Tapi untuk kualitas yang konsisten, fiber optik tetap jadi pilihan utama. Jadi, bukan soal yang satu menggantikan yang lain.

Dari sisi pemerintah, Denny Setiawan dari Kementerian Kominfo RI menegaskan komitmen pemerataan. Fokusnya bukan cuma di kota-kota besar.

“Kami mendorong agar pengembangan layanan broadband tidak hanya terfokus di wilayah padat, tetapi juga menjangkau daerah underserved. Komitmen rollout akan terus dipantau,” jelasnya.

Pandangan serupa datang dari pelaku industri. Hendra Gunawan dari MyRepublic Indonesia memaparkan strategi hybrid yang mereka terapkan di lapangan.

Editor: Yuliana Sari


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar