Nah, dalam praktiknya, PT Jasa Raharja menempatkan etika sebagai jantung dari kerangka Governance, Risk, and Compliance (GRC). Implementasinya konkret. Mulai dari penerapan Code of Conduct, penguatan budaya integritas dengan prinsip nol toleransi pada kecurangan, sampai mengintegrasikan etika ke dalam seluruh proses bisnis. Mereka juga didukung sistem digital, seperti ekosistem GRC dan JRCare. Upaya komprehensif ini, klaim Harwan, berbuah manis. Kepercayaan publik terbangun, keberlanjutan layanan terjaga, dan kinerja perusahaan tetap solid di tengah segala tantangan.
Di sisi lain, respons dari kampus pun sangat positif. Amin Wibowo, Direktur MBA FEB UGM, jelas terlihat antusias. Ia mengapresiasi kedatangan Harwan. Kehadiran praktisi langsung di kelas seperti ini, bagi Amin, adalah nilai tambah yang besar. Mahasiswa mendapat kesempatan langka untuk belajar bukan hanya dari teori, tapi dari pengalaman nyata di lapangan.
“Terima kasih atas perkenan Bapak Harwan hadir dan mengisi kelas kali ini,” ujar Amin.
“Ini menjadi bekal penting bagi mahasiswa UGM karena berkesempatan untuk bertemu dalam satu forum Business Ethics for Sustainability, di mana mahasiswa dapat belajar secara langsung dari praktik yang dilakukan oleh Jasa Raharja.”
Acara itu pun berakhir. Namun, diskusi tentang etika dan keberlanjutan nampaknya masih akan panjang. Setidaknya, di benak para calon pemimpin bisnis yang hadir di ruangan itu.
Artikel Terkait
Anggota DPRD DKI Kritik Balasan Foto AI di Aplikasi JAKI, Desak Sanksi Tegas
Harga Sembako Masih Fluktuatif Pasca-Lebaran, Daya Beli Belum Pulih
Di Gregorio Jadi Pahlawan, Juventus Kalahkan Genoa dan Dekati Zona Liga Champions
Menteri Keuangan Bantah Isu APBN Cuma untuk Dua Pekan, Sebut Sumber dari Internal