Opsi lain? Naik angkutan umum kalau memungkinkan, atau nebeng bareng rekan kerja (carpooling). Semua demi satu tujuan.
“Kita mendorong teman-teman ASN ini merubah pola kerja dengan lebih mengedepankan untuk efisiensi, dan juga tidak banyak aktivitas yang pindah tempat. Kita didorong untuk mengedepankan kegiatan-kegiatan secara daring,”
ungkap Sumarno polos.
Dia berharap langkah ini bisa menekan pemakaian bahan bakar karbon. “Kita sangat mengharapkan bahwa ini akan berdampak untuk efisiensi penggunaan bahan bakar karbon,” jelasnya.
Menariknya, ada wacana khusus untuk hari Jumat. Selain WFH, Jumat juga akan dikaitkan dengan Hari Krida dari Kemenpora hari untuk kesehatan dan olahraga. Jadi, bagi ASN yang tetap datang ke kantor, aktivitasnya diharapkan berkaitan dengan olahraga, seperti bersepeda atau lari ke kantor.
Tapi, jangan bayangkan semua pegawai bisa WFH. Sumarno mengakui, jumlah pastinya belum bisa ditetapkan karena wewenang ada di tiap Organisasi Perangkat Daerah (OPD).
“Adapun jumlah ASN yang melaksanakan WFH, saat ini belum dapat dipastikan angkanya, karena tergantung kebijakan masing-masing OPD. Terlebih, setiap OPD memiliki karakteristik yang berbeda-beda,”
katanya.
Dia menegaskan, dengan sistem daring ini, Kepala OPD-lah yang memikul tanggung jawab penuh agar pelayanan ke masyarakat tidak terganggu. Soalnya, tak semua unit bisa kerja dari rumah. Rumah sakit atau loket pelayanan seperti Samsat, contohnya, mustahil menerapkan WFH. Di sana, interaksi langsung dengan warga tetap jadi yang utama.
Artikel Terkait
Pemerintah Thailand Luncurkan Program Diskon Hingga 58% untuk 3.000+ Kebutuhan Pokok
Sidang Perdana Kasus Pembunuhan Bankir: Dua Prajurit Ditahan, Satu Masih Bebas
Kemendes PDT dan BAZNAS Perkuat Sinergi, UPZ Zakat Akan Dibentuk hingga ke Desa
Cuaca Buruk di Soekarno-Hatta, 12 Penerbangan Dialihkan