Semua makin runyam sejak akhir Februari, setelah AS dan Israel menyerang Iran dan menewaskan pemimpinnya, Ayatullah Ali Khamenei. Hizbullah yang didukung Iran pun merespons di awal Maret. Serangan roket dan drone dibalas dengan serangan udara. Kekerasan di Lebanon sejak itu terus naik grafiknya.
Fatme dan keluarganya langsung kabur dengan mobil saat pertempuran pecah. Mereka sempat pulang dua kali, coba bertahan dua malam. Tapi situasi terlalu berbahaya. Mereka harus pergi lagi.
"Kami sangat takut," aku Fatme. Keputusan itu, tegasnya, demi anak perempuannya.
"Butuh lima tahun bagi saya untuk bisa hamil," ujarnya. "Dan anak saya masih trauma akibat perang pada 2024. Setiap ada suara keras, dia langsung menutup telinganya."
Gencatan senjata November 2024 antara Israel dan Hizbullah ternyata tak berarti banyak. Kekerasan berlanjut. Menurut catatan UNIFIL dan pemerintah Lebanon, hingga Februari 2026 sudah lebih dari 15.400 pelanggaran gencatan senjata. Korban tewas akibat serangan Israel lebih dari 370 orang.
Jeremy Ristord dari Doctors Without Borders pernah berkomentar Februari lalu. Katanya, serangan yang terus berlanjut ini bukan cuma merusak rumah. Tapi juga fondasi kehidupan sehari-hari dan proses pemulihan.
Itu sebabnya putri Fatme masih ketakutan. Ledakan dan suara keras tak pernah benar-benar berhenti. Mereka pun memutuskan pergi, hanya bawa barang seperlunya. Tak tahu tujuan pasti, yang penting kabur dulu. Mereka terjebak macet panjang, tidur di mobil, sebelum akhirnya dapat tempat di gedung Azarieh.
"Saya sangat merindukan rumah saya. Kehidupan saya, barang-barang saya. Sebulan lalu semuanya masih berbeda. Hidup kami sekarang benar-benar terbalik," keluhnya.
Di pengungsian, putrinya masih sering menangis dengar suara keras. Fatme lalu memeluknya erat.
"Di saat seperti itu, saya melupakan rasa takut saya sendiri. Saya coba menenangkannya," tambahnya.
Hanya Bisa Bertahan
Masa depan? Itu barang mewah lain. Dalam rapat Dewan Keamanan PBB akhir Maret, Koordinator Bantuan Darurat PBB Tom Fletcher menyebut angka suram: setidaknya 1.240 tewas, 3.500 terluka. Pengungsi melampaui 1,1 juta orang, ratusan ribu di antaranya anak-anak.
"Siklus pengungsian paksa sedang terjadi," kata Fletcher. "Pengungsian bukan solusi. Ini pilihan terakhir yang menyakitkan untuk mempertahankan martabat."
Di tengah semua ini, Fatme masih mencari secercah cahaya. Saat melihat anak-anak bermain, dan putrinya tertawa lepas, hatinya sempat tenang.
"Saat melihat dia bermain, saya merasa semuanya akan baik-baik saja," ujarnya.
Tapi harapan itu rapuh. Dengung drone di langit Beirut atau ledakan dari kejauhan selalu datang mengingatkan. Kenyataan pahit bahwa hidup mereka kini cuma tentang bertahan di antara dua tenda.
"Kami bukan yang pertama, dan tidak akan menjadi yang terakhir yang harus pergi," kata Fatme. Suaranya lirih tapi tegas. "Kami hanya bisa bertahan. Dan saya ingin orang-orang tahu, kami pernah hidup dengan baik. Hidup yang bermartabat."
Artikel Terkait
Mendagri Soroti Perbaikan Inflasi di Tiga Provinsi Pasca-Bencana
Pemerintah Kaji Alih Anggaran untuk Perkuat Program Pemberdayaan Keluarga Miskin
Gangguan Operasional di Daop 5 Purwokerto, KAI Alihkan dan Batalkan Sejumlah Perjalanan Kereta
Polisi Karanganyar Bongkar Praktik Suntik Gas Subsidi 3 Kg ke Tabung Besar