Situasinya sekarang mencekam. Pasar dan pembuat kebijakan seolah dihadapkan pada dua pilihan: de-eskalasi cepat lewat meja perundingan, atau perang yang makin meluas terutama di sekitar infrastruktur energi yang rentan.
Korban Berjatuhan Pasca Serangan Besar-besaran
Sementara tekanan diplomatik berlangsung, serangan udara masih terus terjadi. Sebuah kampanye besar-besaran selama 24 jam yang dilancarkan pasukan AS dan Israel menghantam 272 target di 14 provinsi Iran pada Sabtu lalu. Data itu berasal dari Kantor Berita Aktivis Hak Asasi Manusia.
Akibatnya, setidaknya sembilan warga sipil tewas. Total korban mencapai 184 orang. Serangan paling banyak terkonsentrasi di Teheran, Khuzestan, dan Isfahan.
Operasi terbaru ini sengaja menargetkan infrastruktur dwifungsi. Mulai dari kompleks petrokimia, garnisun militer, sampai pangkalan udara. Pengeboman di Khuzestan, provinsi kaya energi, patut dicatat. Penghancuran fasilitas minyak di sana berpotensi memperketat pasokan global dan mendongkrak harga.
Krisis energi di kawasan ini makin panas pada Minggu pagi. Serangan drone Iran membakar markas besar Kuwait Petroleum Corp. di Kota Kuwait. Gedung yang juga jadi kantor Kementerian Perminyakan Kuwait itu langsung dievakuasi. Tim darurat berjibaku memadamkan api.
Drone-drone itu juga menyerang dua pembangkit listrik dan pabrik desalinasi di Kuwait. Kebakaran terjadi dan kerusakan yang ditimbulkan cukup signifikan. Untungnya, tidak ada korban luka yang dilaporkan dari serangan-serangan terhadap fasilitas energi tersebut.
(Febrina Ratna Iskana)
Artikel Terkait
BMKG Prediksi Musim Kemarau 2026 Lebih Kering dan Lebih Panjang
Gubernur DKI Geram, Laporan Warga Dibalas Foto AI
Puluhan Siswa Jakarta Timur Keracunan Diduga dari Spageti Program Makan Bergizi Gratis
Dua Juru Parkir Aniaya Marbot 90 Tahun Usai Ditegur di Bandar Lampung