Lucinta Luna Salat Id di Korea Selatan dengan Busana Muslim Pria, Ungkap Keraguan 10 Tahun

- Senin, 06 April 2026 | 10:50 WIB
Lucinta Luna Salat Id di Korea Selatan dengan Busana Muslim Pria, Ungkap Keraguan 10 Tahun

Penampilan Lucinta Luna saat salat Id di Korea Selatan benar-benar mengejutkan banyak orang. Bukan cuma karena lokasinya yang jauh, tapi lebih pada pilihan busananya: ia tampil dengan pakaian Muslim pria, lengkap dengan sarung. Momen yang diunggah di media sosial itu langsung ramai dibicarakan netizen.

Di balik keputusan itu, ternyata ada perjalanan panjang yang ia lalui. Lucinta mengaku, ini adalah pertama kalinya dalam sepuluh tahun terakhir ia menjalankan salat Id. Rupanya, keraguan dan ketakutan akan hujatan selalu menghantui.

“Aku udah 10 tahun gak pernah salat Hari Raya, salat Idul Fitri, salat Idul Adha. Kalau aku ziarah juga aku pakai baju yang gak sesuai kodrat,” ujarnya.

Ia melanjutkan, “Makanya aku memberanikan diri, tapi beraninya di luar negeri.”

Pernyataan itu disampaikan Lucinta dalam sebuah obrolan di kanal YouTube Ivan Gunawan. Ia merasa perlu mengumpulkan nyali besar untuk bisa beribadah dengan penampilan yang ia yakini sesuai kodratnya sebagai laki-laki, meski secara hukum dan fisik ia telah menjadi perempuan.

Memang tidak mudah. Tantangannya nyata, mengingat publik pasti akan terbelah. Itulah sebabnya ia memilih melakukannya jauh dari Indonesia, di Korea Selatan, sebagai langkah awal keberaniannya.

“Pada saat momen Idul Fitri itu, gue pengen salat di bagian laki-laki sesuai dengan kodrat meskipun gue udah legal semuanya, berbentuk seperti ini,” katanya menjelaskan. “Gue lakuin keberanian itu dari hal terkecil itu.”

Yang menarik, respons yang datang justru tak sepenuhnya negatif. Banyak netizen malah memuji dan mendukung langkahnya. Hal ini diakuinya di luar dugaan; ia mengira akan dibanjiri hujatan.

Namun begitu, dukungan itu seringkali dibarengi dengan harapan. Tak sedikit yang berkomentar mendorongnya untuk “kembali” ke kodrat semula.

Lucinta, yang kini berusia 36 tahun, menyadari hal itu. Ia pun membalas dengan kalimat singkat yang sarat makna.

“Semua mendukung dan semua orang tuh bikin gue ‘ayo kembali’,” ujarnya. Lalu ia menambahkan, “tapi gak semudah itu.”

Kisahnya ini, di luar pro dan kontra, menyisakan cerita tentang pencarian identitas dan ruang untuk beribadah dengan tenang. Sebuah perjalanan personal yang ternyata mendapat sorotan begitu luas.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar