Tekanan geopolitik global yang kian meningkat justru mempertegas urgensi penguatan kerja sama antara Indonesia dan China, khususnya di kawasan Asia Tenggara. Hal itu disampaikan Duta Besar Indonesia untuk Republik Rakyat China, Djauhari Oratmangun, dalam forum bisnis Indonesia-China yang dirangkaikan dengan pendirian Asosiasi Alumni Cheung Kong Graduate School of Business (CKGSB) Indonesia di Jakarta, Selasa.
“Tidak ada pilihan lain selain kita memperkuat kerja sama, baik dalam konteks hubungan Indonesia-China maupun hubungan ASEAN-China,” ujar Djauhari dalam sambutannya. Menurutnya, masyarakat dunia saat ini sedang menyaksikan transformasi besar dalam aspek geopolitik dan geoekonomi global yang berdampak luas. Kondisi tersebut, lanjut dia, menjadi momentum yang tepat bagi kedua negara untuk semakin mengeratkan jalinan kerja sama.
Secara bilateral, China secara konsisten menempati posisi sebagai salah satu mitra dagang dan sumber investasi terbesar bagi Indonesia. Djauhari mencatat, nilai perdagangan bilateral pada 2025 hampir mencapai 170 miliar dolar AS, sementara realisasi investasi diperkirakan menyentuh angka 7,5 miliar dolar AS. Untuk menjaga keberlanjutan kerja sama di tengah ketidakpastian ekonomi dan pergeseran keamanan global, pemerintah Indonesia telah menyiapkan langkah mitigasi guna memastikan daya saing dan pembangunan yang stabil.
Di sisi lain, investasi China dinilai telah berkontribusi nyata dalam transformasi industri di Indonesia, termasuk hilirisasi, pengembangan ekosistem kendaraan listrik, energi terbarukan, serta konektivitas infrastruktur. Peran tersebut menjadi semakin krusial mengingat Indonesia tengah mempersiapkan diri menuju Visi Indonesia Emas 2045, yakni menjadi negara maju yang modern, inklusif, dan kompetitif dalam waktu 19 tahun ke depan.
Sementara itu, Djauhari juga menyoroti besarnya potensi pasar ASEAN yang memiliki total populasi sekitar 600 juta jiwa dengan produk domestik bruto (PDB) kawasan melampaui 3 triliun dolar AS. Ia menilai hal tersebut menandai kemajuan Asia Tenggara, dengan Indonesia sebagai negara terbesar di kawasan menjadi salah satu penggerak utama pertumbuhan itu.
“Jika kita bergerak selaras dan terus bekerja sama, kita bisa mendapat keuntungan dari transformasi geoekonomi dan geopolitik yang terjadi di depan mata kita saat ini,” demikian Djauhari menegaskan.
Artikel Terkait
Sapi Kurban Terperosok ke Septic Tank Sedalam 6 Meter di Mojokerto, Dievakuasi Damkar Lebih 3 Jam
Sopir Ambulans Dikeroyok Usai Senggolan di Bolaang Mongondow, Empat Orang Diamankan
Jemaah Haji Lansia Asal Tarakan Meninggal di Makkah Saat Bersiap Menuju Arafah
Bupati Gorontalo Utara Kirim Bantuan Darurat ke Lima Desa Terendam Banjir