Lalu dari mana asalnya? Sumber utamanya ya dari aktivitas kita sendiri di luar angkasa. Sisa peluncuran, satelit yang sudah pensiun, dan pecahan-pecahan akibat insiden di orbit. Masalahnya, benda-benda ini sulit dikendalikan dan bergerak sangat cepat.
Menurut BRIN, setidaknya ada dua bahaya utama. Pertama, risiko tabrakan di orbit yang bisa merusak satelit aktif yang vital. Kedua, meski jarang, potensi jatuh ke permukaan Bumi.
“Pada saat mengorbit, ada potensi sampah antariksa bertabrakan dengan satelit aktif. Ini akan menimbulkan masalah,” jelas Thomas Djamaluddin.
“Bahaya yang lainnya yaitu ketika jatuh di permukaan Bumi, bisa dilihat dari segi ukuran bisa sampai berton-ton. Ini berpotensi membahayakan tetapi kejadiannya langka.”
Jejak Sampah Antariksa di Indonesia
Fenomena di Lampung bukan yang pertama. BRIN mencatat sejumlah kejadian serupa. Pada 1981, misalnya, sampah milik Rusia jatuh di Gorontalo. Lalu ada lagi di tahun 1988 (Lampung, Rusia), 2004 (Bengkulu, RRT), 2016 (Sumenep, AS), 2017 (Sumatera Barat, RRT), dan terakhir 2022 di Kalimantan Barat milik RRT.
Mengapa Indonesia kerap dilintasi? Posisi kita di khatulistiwa menjadi jalur orbit banyak satelit. Karena itu, pemantauan terus dilakukan. Satu hal penting: sampah antariksa yang jatuh tetap menjadi tanggung jawab negara pemiliknya. Kepemilikannya bisa dilacak lewat katalog orbit, dan jika menimbulkan kerugian, bisa menjadi urusan hukum internasional.
Jadi, cahaya misterius itu mungkin hanya pengingat. Bahwa langit di atas kita, ternyata mulai penuh dengan ‘sampah’ dari peradaban kita sendiri.
Artikel Terkait
Gempa 7,6 SR: Warga Bitung Pulang, Trauma Masih Kuat di Maluku Utara
Patroli Gabungan Brimob dan Polres Jaktim Amankan Remaja Pelaku Miras dan Pelanggaran Lalu Lintas
Diskon Tiket Mudik PELNI 30% Ludes Lebih Cepat, Capai 467 Ribu Penumpang
Polres Pelalawan Amankan Pelaku Pembakar Lahan Gambut Seluas 500 Hektare