Jakarta Kinerja ekspor minyak sawit mentah (CPO) Indonesia di Februari 2026 tercatat positif. Tapi, momentum ini harus dijaga. Caranya? Dengan membuka lebih banyak pasar. Soalnya, konflik yang berkepanjangan di Timur Tengah bisa jadi ancaman serius, berpotensi menggerus angka ekspor di bulan-bulan mendatang.
Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) cukup menggembirakan. Nilai ekspor CPO dan produk turunannya pada periode Januari-Februari 2026 melonjak 26,4% menjadi US$4,69 miliar. Sementara volumenya naik lebih tinggi lagi, 36,26%, mencapai 4,54 juta ton. Kontribusinya terhadap total ekspor nonmigas pun signifikan: 11,07%.
Namun begitu, di balik angka-angka bagus itu, ada bayangan ketidakpastian. Institute for Development of Economics and Finance (Indef) mengingatkan, tekanan global yang makin berat akan jadi tantangan ke depan. Peneliti Indef, Afaqa Hudaya, khawatir permintaan dari kawasan Timur Tengah bakal terganggu.
"Dalam kondisi ini, negara-negara importir cenderung bersikap defensif dengan menahan konsumsi dan mengoptimalkan stok," ujar Afaqa, Minggu (5/4/2026).
Menurutnya, kenaikan harga komoditas saat ini lebih didorong gejolak geopolitik yang mendongkrak harga energi global. Bukan karena permintaan riil yang sehat. Ini terlihat dari harga minyak yang tembus US$100 per barel dan lonjakan gila harga LNG Asia yang hampir 40% dalam sehari.
Kalau konflik berlarut, justru berpotensi menekan permintaan ekspor. Ekonomi negara tujuan ekspor bakal tertekan inflasi dan daya beli yang melemah.
Lonjakan harga energi itu memicu efek imported inflation. Dampaknya luas, termasuk untuk produk-produk berbasis CPO. Afaqa menyebut, sekitar 74% pengeluaran rumah tangga di Indonesia sensitif terhadap harga pangan, energi, dan transportasi.
"Sehingga pelemahan ekonomi akibat konflik akan berdampak langsung pada penurunan konsumsi CPO. Dengan demikian, konflik tidak memperkuat permintaan, melainkan justru meningkatkan risiko kontraksi permintaan," jelasnya.
Masalah lainnya, kenaikan harga CPO ternyata belum tentu menguntungkan eksportir. Indef menilai, keuntungan dari harga itu belum cukup untuk menutup lonjakan biaya logistik yang ikut terdorong naik.
Artikel Terkait
Patroli Gabungan Brimob dan Polres Jaktim Amankan Remaja Pelaku Miras dan Pelanggaran Lalu Lintas
Diskon Tiket Mudik PELNI 30% Ludes Lebih Cepat, Capai 467 Ribu Penumpang
Polres Pelalawan Amankan Pelaku Pembakar Lahan Gambut Seluas 500 Hektare
Pemprov DKI Tegur Kelurahan dan Terbitkan SE Larangan AI untuk Bukti Aduan Warga