Harapan agar konflik mereda sebelum Paskah mungkin belum terwujud. Namun begitu, Paus tak berhenti mengajak umat Katolik di mana pun untuk terus mendoakan perdamaian setiap harinya.
Dalam refleksinya, Kardinal Suharyo melihat situasi global saat ini bagai diselubungi “kegelapan”. Tapi di balik itu, masih ada secercah harapan. Sebuah cahaya kecil yang terus menyala, menerangi jalan kemanusiaan.
Selain perdamaian, ada satu hal lain yang ia soroti: ekologi integral. Ini bukan sekadar persoalan teknis seperti energi atau sampah. Lebih dari itu, ini soal cara pandang menyeluruh yang menyentuh moralitas manusia. Kerusakan lingkungan, dalam pandangannya, bersumber dari sikap serakah yang mengabaikan solidaritas.
“Selama keserakahan masih dominan, apalagi didukung kekuatan yang merusak, maka kerusakan akan terus terjadi,” imbuhnya.
Kardinal Suharyo menekankan, pertaubatan ekologis harus dimulai dari dalam. Dari perubahan hati nurani, bukan sekadar aksi seremonial belaka. Ia pun mengajak masyarakat untuk hidup sederhana. Gaya hidup secukupnya, tanpa berlebihan, adalah bentuk pengendalian diri yang nyata.
Pada akhirnya, dua pesan ini perdamaian dan kelestarian bumi berjalan beriringan. Keduanya membutuhkan komitmen dan kesadaran yang lahir dari kedalaman hati.
Artikel Terkait
Serangan Israel di Beirut Selatan Tewaskan 4 Warga, Korban Diduga Bertambah
Tim Panjat Tebing Indonesia Berangkat ke China, Kejar Tiket Asian Games 2026
Banjir Rendam Ratusan Rumah dan Jalan di Dua Kecamatan Cianjur
Peradi Kucurkan Rp6,7 Miliar untuk Pemulihan Pasca Bencana di Sumbar