Nah, fokus utama yang mendesak itu soal sarana dan prasarana. Anggaran revitalisasi yang Rp13,7 triliun tadi ditargetkan untuk membenahi 7.131 lembaga pendidikan. Rinciannya, 6.973 madrasah, 128 sekolah Kristen, 13 sekolah Katolik, 9 sekolah Hindu, dan 8 sekolah Buddha.
Nasaruddin menyoroti kondisi banyak bangunan madrasah yang masih memprihatinkan. Baginya, kualitas sarpras itu cerminan nyata, apakah negara benar-benar berpihak pada pendidikan keagamaan atau tidak.
Di sisi lain, ada program lain yang juga ketinggalan: Makan Bergizi Gratis (MBG). Di lingkungan madrasah dan pondok pesantren, cakupannya baru sekitar 10-12 persen. Jauh sekali ketimbang sekolah umum yang diproyeksikan bakal capai 80 persen.
“Padahal, secara ekonomi, anak madrasah dan santri itu justru paling butuh dukungan ini. Harapannya, jangkauannya bisa ditingkatkan,” ujarnya.
Menurutnya, pesantren justru punya ekosistem yang paling siap menjalankan MBG.
“Di pesantren, risiko kesehatan terkait pangan hampir tidak ada. Mereka sudah biasa dengan dapur mandiri dan makan bersama. Model kayak gini justru aman dan efektif,” pungkas Nasaruddin.
Harapannya sih sederhana: usulan anggaran ini bisa disetujui. Dengan begitu, peningkatan kualitas SDM Indonesia lewat pendidikan keagamaan yang unggul dan inklusif bisa lebih cepat terwujud.
Artikel Terkait
Iran Abaikan Ultimatum Trump, Jenderal Sebut Ancaman AS Bodoh dan Gugup
Jenazah Dua Prajurit TNI Gugur di Lebanon Tiba, Dimakamkan di TMP Hari Ini
Indonesia Desak Evaluasi Keamanan Pasukan PBB Usai Tiga Prajurit Gugur di Lebanon
Tiga Daerah di Sulsel Kolaborasi Olah Sampah Jadi Listrik 25 MW