Menurut Kombes Pol Henry Novika Chandra dari Bidang Humas Polda NTT, pendekatannya memang berbeda tahun ini. “Semana Santa di Larantuka punya nilai spiritual yang sangat tinggi. Kami harus mengedepankan pelayanan yang humanis. Biar masyarakat benar-benar merasakan aparat sebagai pengayom, bukan sekedar pengawas.”
Di sisi lain, persiapan teknisnya juga matang. Sebanyak 85 pos telah didirikan di titik-titik strategis. Fungsinya beragam, mulai dari pusat pengamanan sampai bantuan darurat. Pengaturan lalu lintas di bandara, pelabuhan, dan terminal sudah dioptimalkan. Patroli bahari terpadu dan tim medis juga disiagakan, terutama untuk mengawal prosesi laut yang rentan risiko.
Secara keseluruhan, ada 1.113 gereja dan seluruh jalur prosesi di Flores Timur serta Kota Kupang yang menjadi area pengawasan. Setiap personel diinstruksikan untuk profesional, tapi juga membangun komunikasi yang hangat dengan warga. Tujuannya satu: menciptakan suasana harmonis sepanjang perayaan.
Pada akhirnya, operasi besar-besaran ini lebih dari sekadar soal angka dan prosedur. Ini tentang pesan. Di tengah doa dan lantunan puji-pujian, kehadiran negara diharapkan bisa dirasakan dengan cara yang lebih lembut. Mereka tak cuma menjaga ketertiban, tapi juga merawat kedamaian dengan ketulusan. Sebuah langkah yang berusaha menyentuh sisi kemanusiaan, persis di momen ketika iman sedang dirayakan dengan paling khidmat.
Artikel Terkait
Lebih dari 45% Perusahaan Transportasi Rusia Sudah Gunakan AI, Regulasi Masih Tertinggal
Savio Siap Pimpin PSM Makassar Hentikan Tren Buruk di Kandang
72 Siswa Diduga Keracunan Spageti Program Makan Bergizi Gratis di Jakarta Timur
Halte RPTRA Lenteng Agung Kembali Dipenuhi Sampah, Perilaku Warga Jadi Sorotan