Masih di hari yang sama, sindirannya makin menjadi. Dia mencap sekutunya itu pengecut.
Ancam Tak Bantu Lagi
Marahnya berlanjut. Enam hari kemudian, pada 26 Maret, Trump kembali menyulut api. Dia geram dengan sikap negara sekutu yang dianggapnya tidak bersolidaritas.
Lalu, Siap Akhiri Perang dan Salahkan Orang Lain
Menjelang akhir Maret, nada Trump agak berubah lagi. Dia seolah lepas tangan dan menyuruh negara lain urus sendiri masalah Selat Hormuz.
Di hari yang sama, dia malah bicara soal akhir perang. Optimis. Dia perkirakan konflik bakal beres dalam dua minggu, bahkan tanpa perlu ada kesepakatan khusus.
Tapi Besoknya, Ancaman Serang Lagi
Seakan lupa dengan kata "menyelesaikan" yang dia ucapkan kemarin, keesokan harinya Trump kembali menggebrak. Dalam pidato di Gedung Putih tanggal 1 April malam, ancamannya lebih keras dari sebelumnya. Iran, katanya, harus dibawa mundur ribuan tahun.
Begitulah. Dalam rentang waktu yang relatif singkat, pernyataannya berganti dari minta tolong, marah-marah, sampai ancaman penghancuran total. Sebuah roller coaster diplomatik yang membuat banyak pihak, mungkin termasuk stafnya sendiri, hanya bisa menghela napas.
Artikel Terkait
Libur Panjang Paskah, Kawasan Monas Ramai Dikunjungi Keluarga
Pengacara Bantah Kliennya Ada di TKP Kasus Kekerasan Seksual di Tanah Abang
Lansia di Jepara Tewaskan Mantan Mertua Usai Bakar Korban dengan Pertalite
Satgas PRR: 230 Huntap Selesai, 90% Huntara Terpenuhi di Sumatera Pascabencana