Lantas, bagaimana tanggapan pemerintah? Pihak koordinator perekonomian mengakui eskalasi geopolitik bisa memicu volatilitas di harga energi dan pasar keuangan global. Namun begitu, mereka meyakini fundamental ekonomi Indonesia masih kuat.
“Namun fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat, dengan dukungan konsumsi domestik, hilirisasi industri, serta investasi,”
kata Juru Bicara Kemenko Perekonomian, Haryo Limanseto, di hari yang sama.
Meski optimis, kewaspadaan tetap dijaga. Pemerintah mengaku terus memantau risiko eksternal dari perang AS-Israel dan Iran, terutama dampaknya pada tekanan fiskal dan inflasi di dalam negeri. Berbagai skenario sudah disiapkan, salah satunya lewat pengelolaan APBN yang fleksibel.
Dari sisi fiskal, prinsip kehati-hatian jadi pedoman. Ada rencana efisiensi anggaran yang cukup besar, mencapai Rp130,2 triliun. Tapi Haryo menegaskan, langkah ini bukan berarti memotong belanja prioritas.
“Langkah efisiensi anggaran sampai dengan Rp130,2 triliun merupakan bagian dari upaya menjaga kesehatan fiskal tanpa mengurangi belanja prioritas yang berdampak langsung pada pertumbuhan dan perlindungan masyarakat,” tuturnya.
Jadi, situasinya seperti ini: dunia usaha mengajukan resep antisipasi, sementara pemerintah mencoba meyakinkan bahwa fondasi ekonomi kita cukup tangguh untuk menghadapi badai dari luar. Langkah-langkah penghematan dan efisiensi digulirkan, dengan janji bahwa program-program penting tetap aman. Waktulah yang akan membuktikan, apakah langkah-langkah ini cukup untuk melindungi perekonomian dari guncangan yang datangnya dari jauh itu.
Artikel Terkait
Ledakan di Fasilitas PBB Lebanon Lukai Tiga Personel Indonesia
Pemerintah Fokuskan Optimalisasi SDM untuk Dukung Program Hasil Terbaik Cepat
Tiga Pasukan Perdamaian PBB Terluka Akibat Ledakan di Lebanon Selatan
TRIS Siap Ekspansi Global, Manfaatkan Perjanjian Dagang dan Kinerja 2025 yang Solid