Lebih dari 2.600 Personel Amankan Ibadah Jumat Agung di 404 Gereja Sumsel

- Jumat, 03 April 2026 | 18:55 WIB
Lebih dari 2.600 Personel Amankan Ibadah Jumat Agung di 404 Gereja Sumsel

Palembang, Jumat (4/4/2026) – Suasana Jumat Agung di Sumatera Selatan tahun ini dijaga ketat. Bayangkan saja, lebih dari 2.600 personel gabungan Polri dan TNI tersebar di 404 gereja yang tersebar di 17 kabupaten dan kota. Angkanya cukup besar: 2.425 dari kepolisian dan 246 dari TNI. Tujuannya satu: memastikan ibadah berjalan khusyuk dan aman di seluruh penjuru Bumi Sriwijaya.

Di lapangan, para pimpinan polisi turun langsung memantau situasi. Kapolrestabes Palembang, Kombes Sonny Mahar Budi Adityawan, misalnya, menyambangi Gereja Santo Yoseph dan Gereja Katedral Santa Maria Palembang. Dia memeriksa setiap detail pengamanan, dari pintu masuk hingga area parkir.

“Skala pengamanan ini terdistribusi secara merata di berbagai wilayah hukum untuk memastikan tidak ada celah bagi gangguan kamtibmas,” begitu bunyi keterangan resmi Polda Sumsel.

Tak hanya di kota besar, pengawasan juga dilakukan hingga ke daerah. Kapolres Banyuasin, AKBP Risnan Aldino, menyisir rumah ibadah dari Kelurahan Seterio hingga Kecamatan Betung. Sementara di Musi Rawas, AKBP Agung Adhitya Pranata memimpin pengamanan di Tugumulyo. Mereka semua punya misi yang sama: menjaga kekhusyukan jemaat.

Kalau dirinci, pengawalan ini benar-benar merata. Kota Palembang sendiri mengerahkan 510 personel untuk 64 gereja. Kabupaten Banyuasin menempatkan 171 personel di 47 titik. Daerah lain seperti OKI memagari 41 gereja dengan 122 personel, sementara Muara Enim mengamankan 27 lokasi dengan 230 orang. Ini semua bagian dari Operasi Pengamanan Perayaan Ibadah Paskah 2026 yang berlangsung empat hari penuh, mulai Kamis Putih hingga Minggu Paskah nanti.

Strateginya jelas mengutamakan pencegahan dan pendekatan humanis. Bahkan sebelum ibadah dimulai, tim Jibom Sat Brimob sudah melakukan sterilisasi menyeluruh di setiap sudut gereja. Mereka memastikan tak ada benda mencurigakan atau berbahaya yang tertinggal.

Petugas di lapangan juga tampil dengan rompi hijau terang agar mudah dicari jika warga butuh bantuan. Yang menarik, senjata api tidak boleh digunakan sembarangan. Aturannya ketat: hanya boleh dipakai atas perintah pimpinan. Ini untuk menghindari kesan mengintimidasi dan tentu saja, menjaga kesucian momen ibadah.

Layanannya pun tak cuma soal keamanan fisik. Di luar pagar gereja, petugas juga mengatur lalu lintas agar tidak macet tugas yang dipegang Satgas Kamseltibcarlantas. Tim medis dari Dokkes Polri juga siaga, siap menangani jemaat yang mungkin pusing atau lemas selama kebaktian berlangsung.

“Melalui sinergi lintas sektoral dan pendekatan yang melayani ini, Polda Sumsel bertekad merawat toleransi dan menjaga predikat Sumatera Selatan sebagai wilayah zero conflict. Kehadiran Polri di setiap gerbang gereja menjadi bukti nyata bahwa negara senantiasa hadir untuk mendampingi masyarakat, memastikan kedamaian dan kerukunan umat beragama tetap terjaga di Bumi Sriwijaya,” tambahnya.

Jadi, itulah upaya yang dilakukan. Sebuah pengawalan besar-besaran, tapi dijalankan dengan sentuhan yang halus dan penuh perhitungan. Tujuannya sederhana: semua bisa beribadah dengan tenang.

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar