HOUSTON Pasar minyak dunia kembali diguncang. Kamis lalu, 2 April 2026, harga minyak melesat tajam. Pemicunya? Pernyataan keras dari Presiden Donald Trump yang berjanji akan menyerang Iran "dengan sangat keras" dalam dua hingga tiga minggu ke depan. Ancaman itu langsung menyalakan kembali kekhawatiran akan gangguan pasokan yang berkepanjangan.
Di tengah ketegangan itu, muncul kabar dari Teheran. Menurut siaran televisi pemerintah Iran, negara tersebut sedang menyusun sebuah protokol dengan Oman. Tujuannya, untuk mengatur lalu lintas pengiriman melalui Selat Hormuz jalur air yang sangat vital bagi perdagangan energi global.
Dampaknya di pasar terlihat jelas. Kontrak berjangka minyak Brent untuk pengiriman Juni melonjak 7,6 persen, mencapai level USD 108,82 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) naik lebih dramatis lagi, sekitar 11,7 persen, menjadi USD 111,84 per barel.
Protokol Hormuz: Fasilitasi atau Pembatasan?
Menurut kantor berita pemerintah IRNA, protokol yang sedang dikembangkan dengan Oman itu bertujuan memantau lalu lintas kapal. Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Kazem Gharibabadi, yang dikutip dalam laporan tersebut, menegaskan bahwa ini bukan untuk membatasi.
"Protokol ini bertujuan untuk memfasilitasi perjalanan yang aman dan memberikan layanan yang lebih baik kepada kapal," kata Gharibabadi.
Namun begitu, ada detail lain yang mencuri perhatian. Dalam sebuah wawancara dengan Sputnik, Gharibabadi juga menyebutkan bahwa Iran akan menetapkan tarif bagi kapal yang melintas. Langkah ini sebelumnya telah dicap AS sebagai sesuatu yang "tidak dapat diterima."
Selat Hormuz bukan jalur biasa. Sekitar seperlima pasokan minyak dan gas dunia melewati titik sempit ini. Penutupan efektifnya sejak konflik memanas telah memicu lonjakan harga dan gangguan pasokan terbesar dalam sejarah pasar minyak. Kabar tentang protokol sempat meredam kenaikan harga sesaat, tapi tidak lama. Harga kembali merangkak naik mendekati level tertinggi harian.
Gencatan Senjata yang Masih Kabur
Harapan akan meredanya ketegangan awal pekan itu langsung pupus. Dalam pidato yang disiarkan televisi, Trump menyatakan militer AS akan meningkatkan operasinya terhadap Iran dalam beberapa minggu ke depan. Tujuannya, kata dia, mencegah Teheran memperoleh senjata nuklir.
Artikel Terkait
Red Hat dan Google Cloud Pererat Integrasi untuk Modernisasi Aplikasi
Jalan Salib Katedral Jakarta: Para Pemain Rasakan Perjalanan Spiritual Mendalam
Mega Career Expo 2026 Kembali Digelar di Jakarta, Buka Ribuan Lowongan
Satu Tewas dalam Kecelakaan Beruntun di Tol Solo-Semarang